Jumat, 25 Mei 2012 | 19:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kontroversi Keislaman Boediono (1)
'Jilbab Loro' Goyang SBY-Boediono
Headline
SBY-Boediono - inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ana Shofiana Syatiri
web - Senin, 25 Mei 2009 | 17:49 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Mufidah Kalla dan Rugaiya (Uga) Usman Wiranto memberi nilai lebih untuk pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto. Karena pesona jilbab keduanya, kader parpol Islam lebih sreg mendukung JK Win ketimbang SBY-Boediono.

Inilah yang terjadi pada PKS, parpol pendukung SBY-JK. Menurut Wakil Ketua DPP PKS Zulkieflimansyah, sebagian kader partainya menginginkan Jusuf Kalla karena pesona jilbab istri Jusuf Kalla dan istri Wiranto.

"Kalau mau jujur sebagian kader PKS hatinya masih mengarah pada JK-Wiranto karena alasan istri dari kedua pasangan ini sangat sederhana dan berjiblab," terang Zulkiefli di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5).

Mengapa sampai kader PKS melirik Jusuf Kalla-Wiranto? Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika Bima Arya, ada bentuk keraguan dari simpatisan PKS terhadap keislaman Boediono. "Ini berarti isu Boediono tidak mereferensikan umat Islam masih ada di internal PKS," ujar Bima.

Isu Boediono yang kurang Islami jelas dapat mempengaruhi dan menjadi isu di internal PKS. Imej Islami jilbab Mufidah dan Uga mampu mengalahkan pesona SBY, yang memilih Boediono ketimbang anggota Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid.

Tim sukses JK-Wiranto memang sengaja melemparkan isu 'Jilbab Loro' ini. Jusuf Kalla pun dalam setiap pidato serta kunjungannya ke kiai-kiai menggaungkan keluarganya yang berasal dari perpaduan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Isu ini menambah citra pasangan JK Win sebagai pasangan nusantara, dan bukan pasangan pilkada seperti SBY-Boediono yang sama-sama berasal dari Jawa Timur dan Mega-Prabowo yang juga berasal dari Jawa.

Jusuf Kalla berasal dari Makassar dengan ayahnya dari kalangan NU dan ibunya dari Muhammadiyah. Sang istri, Mufidah Kalla berasal dari Lintau, Kabupaten Tanah Datar, merupakan daerah Islami. Sementara Istri Wiranto, Rugaiya Usman, berasal dari Gorontalo yang juga merupakan daerah mayoritas Islam. Sementara Wiranto berasal dari Yogyakarta.

"Itulah modal JK Win untuk menggaet suara pemilih muslin terutama dari kalangan ibu-ibu pengajian. Karena JK juga sering bilang, kalau istrinya dan istri Pak Wiranto itu sudah lama memakai jilbab bukan hanya karena ingin difoto atau acara-acara keagamaan saja," terang Koordinator JK for President Zainal Bintang.

Isu yang digunakan tim JK Win ini tepat untuk meningkatkan suara di daerah Pulau Jawa yang merupakan massa Islam terbesar. Strategi tersebut berpotensi mempengaruhi persepsi masyarakat untuk memilih duet pasangan bakal presiden dan wapres itu.

Dari JK dan Wiranto pun Masing-masing mengoptimalkan potensi yang ada dirinya untuk meraup suara. JK menyadari kelemahannya di Pulau Jawa, karena dia berasal dari Makassar. Dan strategi 'jilbab loro' merupakan hal yang tidak dimiliki oleh pasangan capres SBY-Boediono dan Megawati-Prabowo.

"JK Win ada potensi yang bisa dioptimalkan sedangkan pasangan lain tidak. Kalau itu dilakukan dengan baik dan elegan bisa sangat efektif. Itu bisa merubah pilihan masyarakat," terang Direktur Eksekutif Lembaga Survey Nasional Umar S Bakry.

Memang jilbab loro terkesan citra simbolik, yang seharusnya para capres dan cawapres dalam berkampanye mendasarkan pada yang substansial seperti kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan pendidikan dan ekonomi. Namun strategi 'jilbab loro' dinilai sah-sah saja. Ketika masuk pertarungan politik, kata Umar, cara apa saja dilakukan sepanjang memiliki kebenaran, tidak melanggar etika politik, dan sepanjang itu adalah fakta.

Namun efektif tidaknya strategi jilbab loro memudarkan pesona SBY dan membuat JK Win menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014, semua kembali kepada pemilih. Parpol Islam yang mendukung SBY-Boediono harus pintar-pintar memberi pengertian kepada kader dan simpatisannya yang berada di bawah untuk mengikuti suara dari atas. Jika tidak, apa kata Jusuf Kalla bisa terwujud. "Bus boleh diparkir di tempat lain, namun penumpangnya ke kita." [Bersambung/L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.