INILAH.COM, Jakarta - Kemacetan lalu lintas di Jakarta menyebabkan kerugian Rp43 triliun per tahun, kata pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Andrinof Chaniago.
"Secara riil, dari tahun ke tahun terjadi penurunan pendapatan pada masyarakat Jakarta untuk tingkat ekonomi menengah ke bawah," ungkap Andinof Chaniago pada acara diskusi menelaah visi ekonomi capres dan cawapres di Jakarta, Kamis (28/5).
"Cara mengukurnya, setiap tahun nilai kerugian masyarakat mencapai Rp43 triliun per tahun oleh belanja boros akibat kemacetan," ujarnya.
Pengeluaran tambahan yang dibebankan warga akibat kemacetan itu kata dia, yakni belanja onderdil yang meningkat, pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) serta timbulnya penyakit fisik dan psikis.
Penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), stres dan penyakit kulit banyak menimpa warga Jabodetabek. Walaupun secara statistik pendapatan mereka meningkat, tetapi efek dari kemacetan itu membuat masyarakat menengah ke bawah harus terbebani pengeluaran tambahan, katanya.
"Jadi, terkait meningkatnya pendapatan masyarakat tidak serta-merta harus dicerna begitu saja, sebab justru mereka harus menanggung kerugian akibat kemacetan," ungkap dosen ilmu politik Universitas Indonesia tersebut.
Ia menilai, asumsi peningkatan pendapatan masyarakat yang banyak diklaim selama ini hanya sebatas retorika. "Dari segi ekonomi, memang terlihat pendapatan warga meningkat, tetapi jam kerja juga bertambah. Jadi, saya melihat, pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan," ujar Andrinof Chaniago.
Pengamat Politik itu menilai, diperlukan terobosan gagasan ekonomi untuk memperkuat sistem ekonomi Indoensia ke depan.
"Berangkat dari keprihatinan saya terkait tidak adanya konstruksi ekonomi yang bisa memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia kedepan, saya menilai diperlukan terobosan ekonomi yang fundamental agar kita tidak lagi dibayangi ekonomi yang rapuh serta perulangan siklus ekonomi negatif," ungkapnya.
Siklus ekonomi negatif yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun mengalami stagnan, dan suatu waktu tertentu mengalami peningkatan kemudian kembali mengalami penurunan yang drastis.
"Basis sosial, basis Sumber Daya Manusia (SDM) dan basis kewilayahan sangat menentukan ketahanan ekonomi suatu negara. Variabel lainnya yakni, konstruksi biografis, demografis serta kekuatan ekonomi menjadi fondasi yang landasan negara untuk memperkuat pertumbuhan ekonomii secara berkelanjutan," ujar Andrinof Chaniago.
Perubahan desain geografis dan desaian penguatan teknologi serta SDM kata dia menjadi syarat untuk penguatan ekonomi Indonesia ke depan.
"Saya melihat ekonomi Indonesia sistem yang menganut ekonomi pasar sangat tidak sempurna sangat dan rentan terjadi guncangan," ungkapnya
"Jika hanya mengandalkan kekuatan ekspor Sumber Daya Alam (SDM) tanpa pendalaman teknologi dan penguatan SDM, kita tidak akan maju dan siklus ekonomi Indonesia akan terus berulang," ujar Andrinof Chaniago. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !