INILAH.COM, Jakarta - Seruan SBY kepada tim suksesnya untuk melawan 12 isu yang telah digulirkan ke publik terus menuai kritik. Perintah itu mengambarkan kepanikan SBY terhadap isu dari lawan politiknya. Walah.
"Ini bukti SBY resah terhadap isu yang mulai mendapatkan tanggapan dari publik sehingga SBY sudah tidak tenang lagi," kata pengamat politik Universitas Indonesia Abdul Gafur Sangaji kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (31/5).
Jadi wajar, sambung Gafur, jika SBY reaktif terhadap isu yang menimpanya. Sebab SBY selama ini terlalu percaya diri dan terlalu percaya dengan lembaganya terkait pembentukan citranya. "SBY seharusnya tidak boleh percaya diri kalau dia akan terpilih kembali dan tidak percaya terhadap citra yang dibangun lembaganya," ujarnya.
Seharusnya, sejak awal SBY sudah melakukan upaya perlawanan terhadap isu-isu yang menyudutkan dirinya. Namun hal tersebut tidak dilakukan. Karenanya jika dilihat dari sisi politik, perlawanan ini sudah terlambat dilakukan. Sebab isu-isu lawan politik telah digulirkan jauh sebelum SBY-Boediono deklarasi.
Gafur mengatakan isu-isu lawan, seperti isu ekonomi kerakyatan versus neolib dan politik simbol dan SARA telah membuat SBY mengalami krisis kepercayaan diri dan tensinya mulai turun. "Saya melihatnya SBY terlalu hati-hati dalam mengambil langkah-langkah politik, orientasinya hanya pada popularitasnya," cetus Gafur.[ton]