inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Kuliner Jimbaran Bali di Muara Angke

Headline
Istimewa
Oleh:
Sabtu, 6 Juni 2009 | 07:09 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Tiap Sabtu malam, di Pelabuhan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, macet. Sejumlah mobil mewah malam itu hanya bisa beringsut bak keong di antara ojek, bus, bemo, becak, dan lalu lalang pengunjung.

Kemacetan sudah terlihat mulai dari Pasar Muara Angke yang siang dan malam ramai dibanjiri pengunjung.
"Suasana seperti ini terjadi setiap malam. Mobil-mobil pribadi itu menuju ke pondok ikan bakar di dalam kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI)," kata Tarsudi, 45, pedagang makanan kecil, di Pasar Muara Angke.
Pria asal Purwokerto yang sudah tinggal di Muara Angke sekitar 20 tahun ini, mengatakan, puluhan pondok ikan bakar di Jalan Dermaga Muara Angke, sangat dikenal luas masyarakat Jakarta, dan luar provinsi.
Ketika memasuki kawasan tempat penjualan ikan bakar Muara Angke serasa berada di Pantai Jimbaran, Bali.
Bila pengunjung memilih warung ikan bakar di posisi paling utara dermaga, mereka bisa menyaksikan pemandangan kelap-kelip lampu kapal atau bagan di malam hari.
Bedanya di pantai jimbaran pengunjung warung ikan bakar bisa menyaksikan ke indahan Bukit Uluwatu di tengah lautan secara lebih dekat, namun di Muara Angke, Kepulauan Seribu tidak terlihat di malam hari.
Tak berbeda dengan pantai Jimbaran, di Muara Angke pengunjung juga dihibur pemusik jalanan, seraya menikmati lezatnya cita rasa ikan baronang bakar, cumi, udang, dan kepiting. Pengunjung juga bisa meneguk es kelapa muda, untuk penyejuk kerongkongan.
Ikan bakar Muara Angke dari segi cara memasak, dan penataan tempat, memang memiliki banyak kesamaan dengan ikan bakar di pantai Jimbaran, karena sebagian para pedagang Muara Angke pernah berguru ke Jimbaran.
"Saya pernah belajar ke Jimbaran Bali pada 1999," kata Hj Leha, 45, seorang pemilik warung makan ikan bakar.
Menyoal jenis ikan bakar yang digemari pelanggan, Leha mengatakan, ikan baronang.
"Ikan bakar ini paling banyak pemesannya. Harganya satu porsi bisa mencapai Rp55.000," akunya.
Menurut Leha, warung ikan bakar di Muara Angke ramai pada malam hari-hari libur seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Tak berbeda dengan Leha, pemilik warung ikan bakar lainnya, Eva Eliza, 33, menuturkan jika siang hari pelanggan ikan bakar biasanya dari kalangan karyawan kantor.
"Yang makan di sini umumnya karyawan bank, telkom, dan perusahaan-perusahaan besar," kata pemilik warung ikan bakar Baruna 12.
Wanita yang berjualan ikan bakar sejak 1999 itu mengaku membuka warung hingga pukul 03.00 dini hari.
"Tapi kalau masih ada pembeli, kita tetap buka 24 jam," kata wanita yang mengaku juga melayani pesanan untuk kebutuhan pesta ulang tahun, dan pesanan via telepon.
Karena ramainya pengunjung di hari-hari libur, Eva mengaku bisa berpenghasilan Rp3 juta per hari. "Di hari-hari biasa pendapatan kami hanya Rp500 ribu," akunya.
Dibanding tahun lalu, pendapatannya tahun ini jauh lebih baik. "Kalau tahun lalu, rata-rata di hari biasa omzet kami Rp300 ribu. Sedangkan pada hari libur sekitar Rp1 juta," kata Eva.
Meski demikian, katanya, pendapatan itu jauh turun dibanding 2001-2002 yang bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta.
Eva mengungkapkan, tingginya pendapatan pada 2002 karena jumlah penjual ikan bakar saat itu tidak sebanyak sekarang.
Menjawab soal harga, Eva menjelaskan, ikan bawal dijual Rp35.000/kg, baronang Rp60.000/kg, kakap Rp50.000kg, cumi Rp35.000/kg, dan kepiting Rp50.000/kg.
Masing-masing pelanggan dikenai Rp8.000/orang, plus Rp4.000 untuk sambal mangga, Rp4.000 untuk lalapan, dan Rp20.000 bagi yang memesan saos tiram.
"Harga ini sudah murah dibanding di luar," kata Eva.
Tiap hari modal yang dibutuhkan Eva untuk berjualan ikan bakar sekitar Rp300.000, terdiri bumbu, ikan, dan batok kelapa.
Pedagang ikan bakar khas Bugis, Walim, 30, mengaku warungnya mulai ramai dikunjungi pembeli pada tahun ini.
Sejumlah pengunjung warung ikan bakar di Muara Angke mengaku memilih makan di Muara Angke karena rasanya lezat dan murah.
"Di sini ikan bakarnya selain murah, juga enak," aku Nanang, warga Pondok kopi.
Pria yang bekerja di sebuah rumah sakit itu mengaku menggemari makanan laut, cumi goreng.
Sementara Asrori, 23, yang baru pertama kali datang ke Muara Angke mengaku menikmati suasana pantai Muara Angke.
Hal yang sama juga diungkapkan Nanang, yang mengatakan makan ikan bakar di Muara Angke terasa nyaman, dan murah.
"Kalau yang mahal banyak di Jakarta, tapi Muara Angke beda. Selain enak, murah lagi," katanya.
Untuk menjangkau Muara Angke tidaklah sulit. Kawasan pemukiman nelayan tradisional ini berada sekitar tujuh kilometer dari pusat kota lama.
Angkutan umum hampir 24 jam beroperasi ke kawasan yang seakan tidak berhenti berdenyut ini.
Dari stasiun kota, pengunjung yang hendak ke Muara Angke bisa menaiki bus Metro Mini nomor 30. Ongkosnya pun murah, hanya Rp2.500. [*/L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.