INILAH.COM, Jakarta - Kritikan bernuansa etnis yang dilontarkan Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul disesalkan berbagai pihak. Terkait hal itu, Badan Kehormatan DPP Partai Demokrat akan membahas sanksi apa yang akan diberikan kepada Ruhut.
"Ini sedang kita proses. Malam ini kita akan rapatkan seluruh anggota BK PD akan dikumpulkan dan diperintahkan untuk memproses masalah ini," ujar Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo dalam jumpa persnya di Gedung DPP Partai Demokrat, Jakarta, Senin (1/6).
Mengenai klarifikasi dari pernyataan tersebut baru satu minggu dilakukan, dikatakan Hadi, karena pihaknya sibuk mengurusi kampanye pilpres. "Saat ini sedang sibuk dan fokus pada pilpres. Dan hari ini kita paksakan minta maaf," kata adik ipar Presiden SBY ini.
Karenanya, ia mengharapkan, agar pernyataan Ruhut tersebut tidak dijadikan konsumsi politik jelang kampanye pilpres mendatang. "Saya minta ini tidak dipolitisir terlalu dalam," imbuhnya.
Sebelumnya, Ruhut yang mewakili kubu SBY-Boediono mengkritik Fuad Bawazier dari kubu JK-Wiranto dalam diskusi di Gedung DPD, Jakarta, Rabu (27/5). Ruhut mengatakan negara Arab tidak pernah membantu Indonesia.
Tidak mau kalah, Fuad 'menyerang' pihak SBY-Boediono dengan isu neolib (neoliberalisme). "Orang kalau sudah terpojok akan kalap. Apa susahnya mengaku salah, ya saya berdosa karena neolib. Kan selesai," tandas Fuad.
Permadi dari kubu Mega-Prabowo pun tidak bisa menahan emosi. Anggota dewan penasihat Partai Gerindra ini membela cawapres Prabowo yang sudah kaya sehingga akan selalu memikirkan rakyat.
"Daripada punya presiden miskin yang berpikir untuk dirinya sendiri," ucap Permadi yang selalu menganalogikan Prabowo sebagai Soekarno kecil. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !