INILAH.COM, Jakarta - Tim sukses kampanye SBY-Boediono belakangan seringkali menyerang lawan politiknya secara personal. Hal itu ternyata mencerminkan ketidaksiapan Tim SBY-Boediono menghadapi strategi lawan. Blunder yang dimainkan malah membuat mereka kedodoran.
"Ada yang belum siap bertarung di Pilpres ini, sehingga ada tim kampanye yang strateginya jadi blunder sampai ada yang ditegur. Seperti Ruhut Sitompul dan Rizal Mallarangeng itu sebenarnya kecelakaan. Meski Ruhut sudah santun ketika masuk Partai Demokrat, tapi ujung-ujungnya keseleo juga," ujar Direktur Eksekutif Charta Politika Bima Arya sebelum diskusi 'Perang Udara Pilpres 2009' di Sindang Reret, Kebayoran, Jakarta, Selasa (2/6).
Menurut Bima, saat ini Indonesia tengah memasuki pertarungan pilpres yang berbeda. Saat ini ada perang statemen, perang wacana dan perang citra.
"Siapa yang tidak siap dengan strategi yang rapih, maka akan kedodoran. Seharusnya ada wilayah masing-masing, seperti wilayah isu siapa yang bicara, mana yang boleh, mana yang tidak. Harus juga ada yang jadi opinion builder tiap minggunya," anjur dia.
Bima mengatakan, tim kampanye para kandidat harusnya berhati-hati dalam memainkan isu. Saat ini isu yang merebak adalah wilayah ideologi seperti neolib atau bukan neolib. Namun masih ada yang belum siap bermain di wilayah seperti itu saat ini.
Ruhut dan Rizal merupakan tim sukses SBY-Boediono. Ruhut keseleo lidah saat menyatakan negara Arab tidak pernah membantu Indonesia. Sedangkan Rizal gencar menyerang cawapres Prabowo Subianto soal karir di TNI dengan status dipecat dan kepemilikan 98 kuda yang 3 di antaranya seharga Rp 3 miliar namun berbicara ekonomi kerakyatan.
SBY pernah mencoba meredam blunder-blunder tersebut dengan mengimbau agar para tim sukses menggunakan politik santun dengan tidak menyerang pribadi kompetitor. [mut/sss]