INILAH.COM, Jakarta - Digempur bertubi-tubi oleh Jubir Tim Sukses SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng, akhirnya Gerindra tak tahan juga. Partai pendukung Mega-Prabowo ini tak rela jagoannya diserang terus-terusan. SBY pun disindir lamban.
"SBY merupakan jenderal staf di belakang meja yang tidak sebaik jenderal di lapangan atau komandan seperti Prabowo. Yang lebih bisa cepat dalam mengambil keputusan adalah komandan, bukan staf," cetus Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.
Hal ini disampaikan dalam diskusi 'Perang Udara Pilpres 2009' di Sindang Reret, Kebayoran, Jakarta, Selasa (2/6). Turut hadir Rizal Mallarangeng.
"Kalau jenderal yang datang dari staf itu memang tangannya bersih karena tidak pernah mengambil keputusan. Yang mengambil keputusan itu adalah komandan. Makanya kalau sudah tidak jujur sama diri sendiri, maka bagaimana jujur sama rakyat," ketus Fadli.
Rizal sebelumnya menyerang track record militer Prabowo yang dipecat dari TNI terkait kasus dugaan penculikan aktivis 1998. Jumlah kuda Prabowo pun dihitung Rizal ada 98 ekor, yang 3 di antaranya seharga Rp 3 miliar sehingga Prabowo tidak pas berbicara ekonomi kerakyatan.
SBY turun tangan mengimbau tim sukses menggunakan politik santun dengan tidak menyerang pribadi kompetitor. Namun rupanya tidak mempan. Rizal kembali menyindir Prabowo bak musang berbulu domba.
Sementara kubu Prabowo telah menampik soal pemecatan mantan menantu Soeharto itu dari TNI. Sedangkan kuda yang dimiliki Prabowo dipakai oleh anak-anak petani, bukan bangsawan.
Karir Prabowo di TNI pernah menjabat sebagai Danjen Kopassus. Letjen TNI Purn ini mengakhiri karirnya di TNI dengan jabatan Pangkostrad tahun 1998. Sedangkan SBY pernah menjabat sebagai Kasdam Jaya tahun 1996 saat tragedi berdarah 27 Juli di markas PDI meletus. Jenderal TNI Purn ini mengakhiri karirnya di TNI sebagai Kaster. [sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !