INILAH.COM, Jakarta - Lidah memang tidak bertulang, karenanya orang kerap terjerembab dengan kata-katanya sendiri. Karena kata-kata yang menyerang pribadi dan SARA pula Ruhut Sitompul dan Rizal Mallarangeng dianggap mencemarkan citra politik santun SBY.
Jelang Pilpres 2009, perang citra antar pasangan capres-cawapres memang sedang panas-panasnya. Tim sukses mewakili jagoannya tanpa sadar menyerang kandidat lain dan terpancing emosinya. Begitulah yang terjadi pada anggota tim sukses SBY-Boediono itu. Semua lagi-lagi karena isu neoliberalisme yang menyerang Boediono. Duo 'R' ini terpancing emosinya, hingga lidah keduanya bukan menjawab isu dengan wise, malah kebalikannya dan berakibat fatal.
Rizal emosi ketika lidahnya menyerang pribadi Prabowo terkait 98 kuda yang dimilikinya, dan 3 di antaranya berharga Rp 3 miliar. Bagi Rizal, kekayaan Prabowo tidak mewakili ekonomi kerakyatan yang didengung-dengungkan Ketua Dewan Pembina Gerindra tersebut. Lidah Rizal juga panas menyentil Prabowo terkait track recordnya di militer.
Sementara dalam sebuah debat tim capres, 'Si Poltak dari Medan' terpancing dengan ucapan kubu JK-Wiranto, Fuad Bawazier, yang meminta Boediono tobat nasuha terkait neoliberalisme. Ketua DPP Partai Demokrat yang dikenal ceplas-ceplos balik menyerang dengan mengatakan kata-kata yang berbau SARA. Si Poltak menyindir Fuad dengan mengatakan negara Arab tak pernah membantu Indonesia.
Senasib dengan Rizal yang menerima banyak kecaman terkait serangannya yang dinilai terlalu personal, ucapan Ruhut yang awalnya menyindir Fuad Bawazier, malah menjadi bumerang buatnya. Warga keturunan Arab di Indonesia, yang diwakili PB Pemuda Al Irsyad, tersinggung. Kelompok ini menuntut Ruhut meminta maaf.
"Warga keturunan Arab di Jakarta sudah gerah dengan hal ini. Beberapa tokoh keturunan Arab dari kemarin banyak yang curhat pada saya soal ini. Ini bukan masalah etnis Arabnya semata, tapi soal etika dan kesantunan politik. Bisa saja besok-besok bukan cuma etnis Arab saja yang dibeginikan," kata Ketua Umum PB Pemuda Al Irsyad, Geiz Chalifah.
Ucapan Ruhut dinilainya sudah merusak citra pasangan SBY-Boediono dan berbau rasis terhadap etnis tertentu. Dan hal tersebut malah menjadi kontradiksi dengan politik santun yang terus diucapkan tim sukses capres incumbennt.
Anehnya, Partai Demokrat mencoba untuk memaklmuminya. Wakil Ketua Fraksi PD Sutan Bathoegana menyebut Ruhut terpancing emosi sesaat. Namun alasan tersebut malah sulit diterima oleh mitra koalisi Demokrat dari PKB, Muhaimin Iskandar. Imin yang baru melengserkan Effendy Choirie dari kursi Ketua FKB karena menyetujui hak angket DPT, meminta kepada Ketua Tim Sukses SBY-Boediono, Hatta Rajasa, untuk menertibkan anggotanya yang di luar kontrol.
Untuk mengademkan reaksi di internal koalisi, Sutan menyatakan akan ada sanksi untuk Ruhut, juga Rizal Mallarangeng. Namun semua itu diputuskan oleh Dewan Kehormatan Partai Demokrat. Diberondong terus dengan kecaman, akhirnya petinggi Demokrat menggelar rapat. Dan secara langsung Ruhut meminta maaf atas ucapannya yang rasis. Sementara Rizal Mallarangeng belum ada mengatakan apa pun terkait kata-katanya yang juga menuai kecaman lawan politik SBY.
"Saya Ruhut Sitompul memohon maaf atas kejadian itu. Mungkin karena saya dibesarkan di Betawi sehingga ada salah-salah kate dan ada satu etnis yang tersebut. Dari lubuk hati mohon dimaafkan. Kalau ada yang merasa dirugikan kami mohon maaf," kata Ruhut secara terbuka.
Fuad Bawazier menyambut baik permintaan maaf Ruhut. "Baguslah. Alhamdulillah dia tobat. Yang terpenting dari kejadian ini adalah bahwa supaya ke depannya untuk siapapun juga tidak terulang lagi," harap Ketua DPP Partai Hanura tersebut.
Jangan terulang lagi. Begitu pesan dari Fuad Bawazier yang harus direnungi oleh para tim sukses ketiga pasangan capres-cawapres. Perang statemen, perang wacana, dan perang citra memang sedang marak. Namun hati dan pikiran yang jernih tetap harus dipakai untuk meng-counter segala isu. Politik santun yang diminta SBY jangan sampai hanya menjadi pesan yang masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan.
Jangan sampai pula kata-kata yang keluar dari mulut malah menjadi bumerang. Seperti pepatah yang sering diucapkan oleh Ruhut Sitompul, mulutmu harimaumu. Dan konsistensi antara slogan 'politik santun' dengan perbuatan nyata, itulah yang kini dinanti publik. [L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !