Ruhut Sitompul, anggota Tim Pemenangan SBY-Boediono, di media massa beberapa waktu lalu menyatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah memberikan bantuan kepada Indonesia. Ketua Partai Demokrat itu juga membanggakan AS sebagai penyelamat ekonomi negara ini.
Sehubungan dengan pernyataan tersebut, maka Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut:
Wahdah Islamiyah meyakini bahwa Ruhut Sitompul adalah seorang yang tidak pernah belajar sejarah, karena berdasarkan catatan historis, justru bangsa Arab merupakan pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika Belanda (salah satu bangsa Barat) menjajah bangsa ini selama 3,5 abad.
Setelah Proklamasi 1945 pun bangsa-bangsa Arab (seperti Mesir, Syiria, Irak, Libanon, Yaman, Arab Saudi, dan Afghanistan) tampil pertama kali mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Di sisi lain pada saat yang sama AS dan bangsa-bangsa sekutu (Barat) memberikan bantuan militer plus politik kepada Belanda untuk mencoba menjajah kembali Indonesia.
Wahdah Islamiyah menduga bahwa Ruhut Sitompul juga tidak pernah membaca suratkabar dan mengakses media massa lainnya tentang berita-berita seputar ekonomi dan kerjasama internasional. AS (yang disebut Ruhut banyak membantu Indonesia) justru terbukti telah menghancurkan perekonomian bangsa ini (dengan munculnya krisis moneter yang tidak kunjung berakhir selama 12 tahun terakhir) melalui sistem pinjaman berbunga tinggi disertai syarat-syarat yang mencekik rakyat Indonesia.
Sebaliknya, bangsa-bangsa Arab (seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait) selama ini banyak membantu perekonomian Indonesia dengan bantuan hibah (tidak perlu dikembalikan) dan pinjaman lunak yang melegakan rakyat negeri ini. Bahkan negara-negara Arab aktif memberikan bantuan sosial kemanusiaan secara gratis ketika Indonesia dilanda berbagai bencana alam, di saat AS dan bangsa Barat lainnya enggan memberikan bantuan secara cuma-cuma.
Wahdah Islamiyah memandang patut disayangkan bahwa Bapak SBY yang selama ini dikenal sering mengkritik secara langsung maupun tidak langsung atas sikap politik capres-cawapres lainnya yang dianggapnya kurang terpuji, justru di dalam tubuh tim kampanyenya menunjukkan sikap politik yang sangat tidak santun.
Wahdah Islamiyah mendesak Bapak SBY untuk segera memberhentikan dengan tidak hormat Ruhut Sitompul sebagai anggota Tim Pemenangan SBY-Boediono, karena telah melukai perasaan kelompok etnis, suku, dan agama tertentu. Sebab jika tidak segera melakukan pemecatan, maka dikhawatirkan dapat membangkitkan kemarahan yang lebih besar dari kelompok etnis, suku, dan agama tertentu yang dilecehkan itu.
Wahdah Islamiyah mendesak Tim Pemenangan SBY-Boediono untuk segera meninggalkan sikap politik tidak santun, yang dapat menyakiti perasaan kelompok etnis, suku, dan agama tertentu.
Berdasarkan sejumlah realitas tersebut di atas, Wahdah Islamiyah memandang betapa nistanya apabila ada sebagian komponen umat, terutama dari parpol Islam/parpol dakwah yang selama ini secara langsung maupun tidak langsung mendapatkan bantuan dana/fasilitas dari negara-negara Arab, serta parpol yang mengklaim sebagai penerus perjuangan Masyumi, yang merelakan diri menjadi kaki-tangan AS dengan bergabung dalam tim kampanye SBY-Boediono. Sejarah tetap mencatat Masyumi sebagai parpol yang tidak pernah kooperatif dengan intervensi Barat, termasuk AS.
Demikian pernyataan sikap ini dibuat sebagai wujud kasih sayang dan saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran.
H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc.
Ketua Umum Wahdah Islamiah
micr0byt3@yahoo.com