inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Rupiah Hanya Koreksi Tipis

Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin
Selasa, 2 Juni 2009 | 18:49 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Aksi ambil untung investor menekan pergerakan rupiah sehingga ditutup di teritori negatif. Namun, pelemahan dolar AS terhadap hampir semua mata uang, mampu menahan jatuhnya rupiah lebih dalam.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (2/6) terkoreksi 25 poin terhadap dolar AS menjadi 10.250 dibandingkan poisisi kemarin di level 10.225. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.28 WIB, rupiah ditransaksikan melemah 27,5 poin (0,26%) menjadi 10.262 per dolar AS.
Ariston Tjendra, analis valuta asing dari Monex Investindo Futures mengatakan, rupiah hari ini terimbas aksi profit taking investor, setelah sempat menguat tajam pada perdagangan kemarin. Namun, karena realisasi keuntungannya hanya dalam jumlah kecil, koreksi rupiah pun terbatas.
"Rupiah hanya melemah tipis 25 poin dan ditutup pada level 10.250," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (2/6). Menurutnya, koreksi terbatas itu terdorong trend rupiah yang saat ini menguat terhadap dolar AS.
Koreksi rupiah tertolong melemahnya dolar AS terhadap hampir semua mata uang dunia serta pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang positif. Investor melakukan pembelian rupiah untuk membeli saham di Indonesia. "Meski saham hanya naik 0,06 poin namun pengaruhnya terhadap rupiah masih positif," imbuhnya.
Sedangkan pelemahan dolar, terjadi akibat pengalihan risiko dari investasi berisiko rendah ke investasi berisiko tinggi. Menurut Ariston, pada puncak masa krisis Oktober 2008 lalu, pelaku pasar berbondong-bondong membeli dolar sebagai safe haven.
Namun, pada Februari 2009, muncul berita positif dari indikator ekonomi AS yang indikator ekonomi Inggris terutama untuk sektor perumahan. "Para investor beranggapan titik terbawah krisis sudah terlewati dan berani masuk ke investasi berisiko tinggi seperti saham. Hal ini mendorong melemahnya dolar AS," ungkapnya.
Selain membeli saham, lanjutnya, pelaku pasar asing juga memburu mata uang yang memiliki yield tinggi. Indonesia termasuk mata uang dengan yield tinggi 7,25%. Dibandingkan Amerika yang 0-0,25%, yield rupiah jauh lebih tinggi. Itulah yang mendorong penguatan mata uang lokal ini. "Dolar dibuang untuk masuk ke sektor yang lebih berisiko," ungkapnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.295 terhadap dolar Australia, sebesar 14.512 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) dan 7.116 terhadap dolar Singapura.
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi pelemahan terhadap dolar AS. Hanya empat mata uang yang menguat. Yen Jepang naik 0,10% ke level 96.482, dolar Australia terangkat 0,21% ke angka 0.808, dolar New Zealand terapresiasi 0,42% ke posisi 0.647, dan dolar Singapura terdongkrak 0,03% menjadi 1.441 per dolar AS.
Selebihnya, mata uang kawasan melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong terdepresiasi 0,02% ke angka 7.752, dolar Taiwan terkoreksi 0,65% ke posisi 32.450, won Korsel terjun 0,16% ke level 1.239, peso Filipina terkerek turun 0,64% terhadap dolar AS menjadi 47.355.
Begitu juga dengan rupee India yang melandai 0,38% ke level 47.130, yuan China turun 0,051% menjadi 6.830, ringgit Malaysia tersungkur 0,47% ke posisi 3.488, dan baht Thailand terdepak 0,14% ke angka 34.160 per dolar AS. [E2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.