INILAH.COM, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (3/6) diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. Hal ini dipicu belum rampungnya aksi investor merealisasikan keuntungan pada mata uang lokal ini.
Dealer valas dari sebuah bank asing menuturkan, rupiah hari ini masih berpotensi terkoreksi karena realisasi keuntungan mata uang lokal ini belum usai. Selain itu juga terjadi penguatan dolar terhadap mata uang lain. "Rupiah akan diperdagangkan di level 10.275-10.310 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, rupiah pada perdagangan kemarin sempat menguat hingga ke level 10.250 per dolar AS. Hal ini seiring dengan posisi Indonesia yang masih menjadi target investasi karena masih menawarkan yield tinggi. Namun, aksi beli dolar di level 10.250-10.350 per dolar AS untuk berbagai kebutuhan, menahan penguatan rupiah lebih lanjut.
Ia juga memaparkan, pemangkasan suku bunga BI rate tidak akan menyurutkan minat investor untuk menempatkan dananya di Indonesia. Pasalnya, Indonesia masih merupakan salah satu pasar yang memiliki imbal hasil tinggi di pasar domestik.
"Indonesia bahkan masih merupakan negara dengan imbal hasil tertinggi dibandingkan negara lain," ujarnya. Inflasi Mei yang lebih rendah dari ekspektasi, memperbesar kesempatan dipangkasnya BI rate dengan konsensus turun 25 basis poin ke 7%.
Investor masih menilai pasar domestik menarik terkait stabilnya kondisi politik dalam negeri, pertumbuhan ekonomi yang positif dan inflasi yang terus turun. Apalagi dengan tawaran yield yang tinggi.
Namun, pasar melihat pilpres masih mengandung resiko, sehingga mereka belum maksimal menempatkan investasi di Indonesia. "Hanya faktor pilpres yang menahan penguatan rupiah lebih lanjut dan itu akan berlangsung sepanjang bulan ini," tuturnya.
Sementara itu, treng pelemahan dolar atas mata uang kawasan Asia membawa sentimen positif bagi pergerakan rupiah. Apalagi masalah pemeringkatan kredit masih terus menjadi kekhawatiran tersendiri.
Tekanan terhadap dolar juga datang dari euro dan mata uang yang terkait dengan harga komoditas, seperti dolar Australia dan rupiah. Naiknya harga komoditas berimbas pada penguatan mata uang tersebut. Namun, karena posisi Indonesia sebagai pengimpor minyak, penguatan rupiah tidak sepesat mata uang lain.
Hal senada diungkapkan Ariston Tjendra, analis valuta asing dari Monex Investindo Futures yang memprediksi pergerakan rupiah hari ini akan melemah. Menurutnya, grafik chat harian kemarin menunjukkan rupiah sempat menguat tajam hingga 10.170 per dolar AS dan terjadi tekanan beli yang kuat sehingga mendorong rupiah ditutup di level 10.235 per dolar AS.
"Karena itu, hari ini rentang pergerakannya diperkirakan resistan ada di sekitar 10.300 dan supportnya sekitar level 10.210. Rupiah lebih cenderung mengarah ke 10.300 dibandingkan menguat ke 10.200," jelasnya.
Namun ia menilai, pengumuman BI rate berpotensi memberi sentimen positif pada penguatan rupiah. Ariston mengatakan, dengam pemangkasan BI rate yang mulai terbatas, suku bunga acuan itu akan cenderung stagnan di level 7,25%.
"Jika BI rate tetap kemungkinan rupiah bisa lebih menguat. Setelah menyentuh level 10.300 rupiah akan kembali lagi ke teritori 10.200," pungkasnya.
Ariston menuturkan, data inflasi Mei sebesar 0,04% dibandingkan deflasi bulan sebelumnya sebesar 0,31% menandakan aktivitas ekonomi mulai membaik dan memungkinkan BI tidak memangkas BI rate.
Apalagi trend ekonomi global membaik dan pergerakan rupiah saat ini menguat. Kondisi ini sangat memungkinkan untuk mempertahankan BI rate. "Menurut saya rupiah saat ini sudah berada pada level aman dan tidak terlalu terganggu dengan faktor eksternal dan BI tidak perlu menurunkan kembali suku bunga acuan," paparnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (2/6) terkoreksi 25 poin terhadap dolar AS menjadi 10.250. [E2]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !