INILAH.COM, Jakarta - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia Miranda S Goeltom mengatakan pihaknya meyakini rupiah akan terus berlanjut menguat hingga 2010 karena adanya arus modal masuk yang berlanjut.
"Kami masih memperkirakan bahwa penguatan bisa terus berlanjut, kisarannya lebih baik dari kisaran tahun ini," katanya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI terkait pembahasan APBN 2010 di Jakarta, Rabu (3/6).
Ia mengatakan, untuk 2010 nilai tukar rupiah rata-rata dalam setahun untuk asumsi APBN 2010 berada di posisi Rp10.000-Rp10.500 per dolar AS adalah hal yang realistis. Hal ini lebih rendah dari kisaran 2009 yang berada di level Rp10.000-Rp11.000 per dolar AS.
Hingga akhir Mei 2009, rupiah terus menguat di level Rp10.230 per dolar AS, namun rata-ratanya masih berada di kisaran Rp11.277 per dolar AS.
Menurut dia, pelan tapi pasti penguatan rupiah terus terjadi karena aliran dana asing yang terus masuk ke emerging market (negara pasar berkembang) yang dinilai memiliki fundamental kuat seperti Indonesia.
Masuknya modal asing tersebut, menurut dia, diperkirakan akan berlanjua di 2010. Apalagi apabila Indonesia dinilai sebagai negara emerging market yang memiliki fundamental kuat, kebijakan makro ekonomi yang hati-hati, dan sektor finansial yang kuat, maka aliran dana tersebut diperkirakan tetap kuat.
Sehingga, menurut dia, akan terjadi kembalinya dana ke negara emerging market (leveraging) dan hal ini diperkirakan memperbaiki kondisi likuiditas global.
Ia menambahkan, risiko pembalikan nilai rupiah tetap ada. "Tergantung dari faktor eksternal bersikap, perilakunya seperti apa, tapi kalau kita lihat secara lebih realistis kemungkinan bahwa leveraging kembali lagi, maka kondisi likuiditas global membaik," katanya.
Untuk saat ini, menurut dia, dana asing yang masuk terutama ke Surat utang negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia serta di pasar modal. [*/cms]