INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI), Kamis (4/6) hingga penutupan sore nanti diprediksikan menguat. Pasalnya, titik keseimbangan harga saham BUMI ini ada di level Rp 2.200 per lembar sehingga investor disarankan mengoleksinya.
Pengamat pasar modal, Dandossi Matram mengatakan meski di awal perdagangan BUMI sempat melemah 50 poin ke level Rp 2.125, saham sejuta umat ini akan bergegas untuk kembali menguat ke level Rp 2.175 per lembar sahamnya.
Pagi hari, menurut Dandossi pelaku pasar masih menunggu pembukaan pasar Eropa pada pukul 14:00 WIB. Karena itu, pergerakan BUMI masih sangat dinamis.
"BUMI sendiri masih akan bertahan dengan pergerakan harga yang wajar di atas angka Rp 2.175 pada kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.150," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (4/6).
Kalaupun BUMI hari ini turun ke level Rp 2.100 menurut Dandossi hanya akan terjadi sesaat dan akan kembali menguat. Karena titik keseimbangan baru BUMI sudah tidak lagi berada di bawah Rp 2.000 melainkan sudah di atasnya.
Titik keseimbangannya BUMI berada pada angka Rp 2.200. "Sehingga peluang untuk turun sebetulnya tidak begitu besar dan saya yakin BUMI akan tetap bertahan pada level Rp 2.200 ke atas," paparnya.
Pada perdagangan sesi pertama, Kamis (4/6) pukul 11:05 WIB, saham BUMI ditransaksikan melemah 125 poin (5,74%) ke level Rp 2.050 dengan harga tertinggi Rp 2.175 dan harga terendah Rp 2.050.
Dandossi kembali memaparkan, dengan penurunan tingkat suku bunga acuan (BI rate) dan penguatan rupiah, kondisi pasar menjadi positif bagi pergerakan BUMI.
"Memang pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit lebih lambat, tapi yang penting bahwa ekonomi ini masih terus begerak naik dan tidak mengalami kontraksi yang negatif. Artinya Indonesia masih terus bertumbuh," ucapnya.
Kondisisi fundamental ekonomi Indonesia itu, menurutnya membuat pergerakan pasar masih dinamis dan lebih mampu mengundang investor untuk menanamkan dananya ke pasar. "Inilah yang sebetulnya menjadi amunisi untuk bergeraknya indeks dan BUMI," tuturnya.
Dandossi menegaskan bahwa pergerakan BUMI akan bertahan pada kisaran Rp 2.175 hingga Rp 1.200 dengan kecenderungan tetap berpeluang menguat dan tidak ada potensi melemah. "Kalau penurunan tampaknya tidak. Karena pergerakan BUMI pun kemarin masih yang termasuk aktif dengan nilai transaksi mencapai Rp 886,1 miliar," bebernya.
Bagaimana dengan pengaruh hasil evaluasi Masyarakat Asosiasi Profesi Penilai Indonesia (Mappi) atas akuisisi BUMI sebelumnya? Menurut Dandossi ada pengaruhnya meski kecil.
Pasalnya, investor akan tetap melihat harga BUMI saat ini yang relatif rendah dan masih mempunyai peluang untuk naik. "Inilah yang akan membuat saham BUMI bertahan," tukasnya.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan kenaikan saham lain yang sudah terbatas, BUMI merupakan satu-satunya saham yang masih besar kemungkinan mengalami lompatan harga. "Masih tinggi hingga level tertinggi Rp 8.500," timpalnya.
Investor secara alami, lanjut Dandossi, cenderung lebih banyak yang masuk ketimbang yang keluar dari BUMI. Ini adalah argumen bahwa BUMI masih menarik untuk investor. Karena itu, apapun keputusan Mappi tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan harga saham BUMI.
Ia menegaskan, kondisi pasar sedang bullish sehingga dalam keadaan ini investor tidak terlalu terpengaruh dengan hal-hal yang negatif. "Saya tetap rekomendasikan beli untuk BUMI asal jangan untuk trading. Koleksi saja. Soalnya hingga 2010 suku bunga juga akan turun terus," imbuhnya.
Sebelumnya analis Panca Global Securities Betrand Raynaldi, mengatakan pengaruh hasil penelitian Mappi atas akuisisi BUMI akan berpengaruh secara psikologis kepada investor. Namun, jika bicara fundamental sebenarnya tidak banyak berpengaruh.
Pasalnya, kalaupun Mappi mengatakan akuisisi itu terlalu mahal, hal itu juga akan menguntungkan BUMI. Jika ternyata kemahalan, Mappi akan merekomendasikan level harga yang wajar.
Kemudian, jika BEI membolehkan akuisisi itu, dengan syarat harganya turun, hal itu justru menguntungkan karena harganya yang diturunkan. Jika BUMI tidak mau menurunkan harga akuisisi dan kemudian dibatalkan, itu juga masih menguntungkan BUMI. "Entah dibatalkan ataupun diteruskan tetap menguntungkan BUMI," timpalnya.
Jika Mappi mengatakan harga akuisisi itu terlalu murah, bagi BUMI justru lebih menguntungkan lagi. "Hanya saja secara psikologis bagi pelaku pasar yang tidak mengetahui hal ini, dan bagi investor yang tidak tahu apa-apa akan berpikir hal itu merupakan suatu berita negatif," tandasnya.
Padahal, kalau dipikir ulang, sebenarnya tidak negatif bagi BUMI. Jika terlalu mahal, justru akan menguntungkan BUMI karena pihak otoritas bursa akan memerintahkan penurunan harganya. Jadi tidak ada hal yang kemungkinan berpengaruh negatif terhadap BUMI terkait dengan evaluasi Mappi. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !