INILAH.COM, Jakarta - Kalau Anda sedang berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa untuk mampir dan mencicipi sate klatak, sate kambing khas Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul.
Panganan yang ada di dalam pasar ini terdiri dari beberapa warung sate klatak yang buka mulai sore hingga malam.
Satu yang membedakan dari sate klatak ini adalah kalau sate yang terbuat dari daging kambing ini tidak dibaluri bumbu layaknya sate kambing biasa.
Jika sate kambing umumnya dibaluri ramuan bumbu ketumbar, kemiri, asam, dan garam agar aromanya menggugah selera, sate klatak tidak. Bumbu sate klatak hanya diberi garam, sehingga terasa asin dan gurih.
Di luar bumbu, irisan dagingnya pun lumayan besar, dibuat sebesar ibu jari orang dewasa. Uniknya, sate ini ditusuk dengan besi jeruji sepeda bukan bilah bambu.
Irisan daging yang ditusuk besi jeruji dan hanya dibumbui garam itu langsung dibakar di atas bara. Setelah dibakar beberapa saat dan matang, sate klatak disajikan di atas piring dengan tusukan besi jeruji sepeda.
Satu tips dalam bersantap makanan ini adalah agar pembeli sate ini berhati-hati saat akan menggigit daging sate agar bibir tidak menyentuh besi yang lumayan masih panas.
Satu porsi sate klatak berisi dua tusuk irisan daging yang cukup besar dan tebal. Meskipun irisan daging cukup besar dan tebal, rasanya sangat empuk dan gurih.
Dalam penyajian, sate klatak biasa 'ditemani' sepiring nasi dan segelas teh panas yang diberi gula batu. Harga satu porsi sate klatak dan nasi sekitar R 8.000 dan minumannya Rp2.000.
Untuk bisa menikmati sate klatak, pembeli harus sabar menunggu, karena hampir setiap malam warung sate klatak itu dipadati pembeli. Pada malam minggu dan malam hari libur, pembeli yang ingin menikmati kekhasan sate klatak lebih banyak, sehingga harus sabar menunggu giliran.
Nama Klatak diambil dari suara besi jeruji sepeda yang jatuh. Besi jeruji yang digunakan untuk menusuk daging kambing itu ketika jatuh di atas papan untuk jualan berbunyi "klatak...klatak".
"Suara klatak itu yang kemudian dipakai untuk menamai sate kambing yang ditusuk dengan besi jeruji sepeda. Nama sate klatak itu kemudian dikenal sampai sekarang," kata pemilik warung sate klatak di Pasar Jejeran, Sujono (55).
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !