INILAH.COM, Jakarta - Masa kampanye memang saat tepat bagi kandidat pilpres untuk berjualan program. Namun, rupanya cawapres Wiranto jeli melihat peluang. Ia pun menjajakan imej 'nusantara'. Loh kok?
"Kami adalah gabungan Jawa dan Luar Jawa, sipil dan militer, dan orang yang sering bergaul dan paham dengan nasional dan kepresidenan."
Demikian ujar Wiranto dalam Rakornas KAHMI di Hotel Sahid, Jakarta, 6 Juni malam.
"Pemilu, adalah jualan image tapi dengan jujur. Pada era globalisasi sekarang, mari berlomba lomba mensejahterakan penduduk, lebih cepat lebih baik. Kami tidak menggunakan isu agama sebagai alat politik, tapi orang agama memilih yang baik," katanya.
Wiranto mengklaim kalau pasangan JK- Wiranto adalah pasangan yang sudah memenuhi unsur untuk maju sebagai Presiden dan Wapres 2009-2014. Selain jujur, ia mengaku banyak memperoleh dukungan dari berbagai pihak pascabersedia menjadi cawapres Jusuf Kalla. "Karena saya orang yang rasional, ternyata Hanura dapat 3,7 persen. Kalau saya nekad maju capres, maka barangkali saya harus di periksa dokter spikiater," ucap Ketua Umum Partai Hanura disambut gelak tawa anggota KAHMI.
Perubahan, lanjut Wiranto, adalah keniscayaan yang pasti terjadi dan lebih cepat lebih baik."Saya percaya perubahan sudah ada, tapi apakah sudah mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran? Apakah kita mau sama dengan hari esok? pastinya tidak mau dan saya juga tidak mau," cetusnya.
Wiranto menambahkan sebagian besar masyarakat belum memahami siapa pemimpin yang akan dipilih. Dirinya menyarankan mencari pemimpin yang melindungi rakyatnya. "Kasus Ambalat bukti tidak bisa melindungi, perlindungan terhadap WNI juga belum serius," tegas dia. [ton]