Senin, 28 Mei 2012 | 15:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
LSI: Survei Dibayar Sudah Lazim
Oleh: Anton Aliabbas
web - Minggu, 7 Juni 2009 | 09:21 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Hujan kritik terus menerpa Lembaga Riset Indonesia (LSI) usai mengakui survei terbaru disponsori konsultan kampanye SBY, Fox Indonesia. LSI pun dituduh tidak independen dalam melakukan sigi. Namun, LSI menganggap adanya sponsor dalam survei politik hanyalah praktik lazim.

"Sejauh yang saya tahu dan baca dari kode etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia di mana LSI menjadi anggotanya, tidak ada prinsip etika yang dilanggar oleh LSI," ujar Direktur Riset LSI Kuskrido Ambardi dalam rilis yang diterima INILAH.COM, Minggu (7/6).

Menurutnya, sponsor boleh memberikan bantuan pendanaan untuk melakukan survei sepanjang tidak melakukan intervensi terhadap data. Apalagi, masalah ini praktek yang lazim belaka dimana-mana belahan dunia. Terlebih UU No 10 tahun 2008 tentang Pemilu dan UU No 42 tahun 2008 tentang Pilpres membolehkan publikasi survei asalkan disebutkan sumber dana dan metodologi survei yang dilakukan.

"Apa yang disampaikan LSI dalam survei terbarunya adalah bagian dari melaksanakan UU. Adalah hak setiap warga negara untuk percaya atau tidak percaya terhadap hasil survei LSI," cetus pria yang akrab dipanggil Dodi ini.

Dalam survei yang dilakukan LSI pada 25 hingga 30 Mei 2009 itu, elektabilitas pasangan capres-cawapres SBY-Boediono untuk sementara masih konstan. Survei dengan jumlah total responden sekitar 3.000 orang itu, persentase SBY-Boediono sekitar 70%, sedangkan Mega-Prabowo sebanyak 18%, dan untuk JK-Wiranto sebesar 7%. Survei ini memiliki margin error +/- 1,8 % dengan tingkat kepercayaan 95%.

Dodi meyakinkan data yang disajikan pihaknya bukan hasil manipulasi. Semua angka merupakan temuan dari lapangan dan hasil kerja keras mewawancarai ribuan responden. "LSI tak seceroboh itu. Rugi belaka jika berpikirnya mengutamakan kepentingan jangka pendek dengan mengorbankan keuntungan jangka panjang akibat memanipulasi data," tegas dia.

Baginya, kredibilitas LSI terlalu mahal untuk dipertaruhkan. Ia pun membantah bila institusinya telah menjadi tim sukses dari SBY. "Intinya, kami siap diaudit metodologi dan validasi sampel," cetus Dodi.

Ia menambahkan dengan membuka sumber dana survei, publik bebas mau menghubungkan atau memisahkan sumber dana dengan hasil penelitian. LSI hanya ingin menunjukkan sumber dana itu sama sekali tak menentukan hasil survei. LSI, lanjut dia, sama sekali tidak berambisi mengelola persepsi publik.

"LSI telah memulai tradisi disclosure sumber dana survei, dan LSI mengambil resiko dengan langkah itu. Kita menganggap, langkah ini secara etis jauh lebih bagus ketimbang menyembunyikannya. Resikonya kita tanggung," tandas Dodi.

Sebelumnya Dodi mengakui survei terakhir ditanggung penuh Fox Indonesia. Pengakuan ini adalah kali pertama dilakukan LSI. Sebab, selama ini LSI tidak pernah mengumumkan siapa yang membiayai survei yang ditaksir menghabiskan uang ratusan juta rupiah tersebut. Padahal, sebagian mendesak LSI membeberkan pendanaan survei.

Dalam melansir survei sebelumnya, 15 Mei silam, LSI juga tidak mau mengungkapkan sponsor survei. Dalam survei yang berlangsung pada 27 April hingga 3 Mei 2009, LSI membandingkan 3 pasangan capres, yakni SBY-Boediono, Megawati-Prabowo, dan Jusuf Kalla-Endiartono Sutarto. Pada saat melakukan survei itu, nama Boediono belum muncul. Sedangkan nama JK disandingkan dengan Endriartono bukan Wiranto. Padahal JK-Wiranto mendeklarasikan diri pada tanggal 1 Mei. Nah. [ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.