INILAH.COM, Serang - Letusan Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda, hingga saat ini mencapai 376 kali dengan status siaga atau level III. Sehingga, kawasan gunung tersebut dinyatakan berbahaya untuk didekati.
"Selain letusan, juga kegempaan vulkanik sebanyak 51 kali, tremor 144 kali dan embusan mencapai 142 kali," jelas Kepala Pemantauan Pos Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Anton Prambudi, Minggu (7/6).
Anton mengatakan, selama empat hari terakhir ini aktivtitas kegempaan Gunung Anak Krakatau terdiri atas letusan, tremor, dan embusan mengalami peningkatan. Selain itu, kondisi Anak Krakatau hingga saat ini masih tertutup kabut tebal.
Meningkatnya frekuensi letusan Gunung Anak Krakatau karena setiap tiga sampai 10 menit terjadi kegempaan. Aktivitas kegempaan tersebut yang menyebabkan meningkatnya frekuensi letusan Gunung Anak Krakatau, hingga terjadi bunyi suara dentuman sebanyak dua kali. "Bunyi dentuman itu terdengar hingga ke pesisir pantai Banten sepanjang 42 km," katanya.
Menurut dia, sejak 6 Mei 2009 status Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi siaga atau level III dari status waspada atau level II. Hal ini menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan vulkanik, letusan, tremor dan embusan.
"Selama status siaga tentu pengunjung dan nelayan tidak diperbolehkan mendekati kawasan letusan karena berbahaya terkena lontaran bebatuan," ujarnya. [*/nuz]