INILAH.COM, Jakarta - Perseteruan jelang Pilpres 2009 bukan hanya terjadi antarkandidat saja, melainkan juga antarlembaga survei yang dipesan kandidat. Untuk kali keduanya Lembaga Riset Informasi (LRI) menantang Lembaga Survei Indonesia (LSI) untuk tutup bila surveinya meleset.
"Saya minta LRI tutup dulu, karena waktu pileg kan dia juga pernah nantang LSI dan ternyata hasil dia yang meleset jadi saya harapkan LRI tutup dulu penuhi tantangan yang dulu, baru nantang kita lagi," ujar peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (8/6).
Menurut Burhan, sebagai peneliti, pimpinan LRI Johan O Silalahi harus fair dengan janjinya. Karena jelas terbukti bahwa prediksi LRI Golkar menang pada pemilu legislatif itu salah. Dan prediksi LSI bahwa Demokrat menang lah yang jelas terbukti benar dan sesuai dengan hasil penghitungan resmi KPU.
"Soal metodologi, terus terang saya tidak etis untuk mengomentari metodologi LRI. Kritikan yang disampaikan para pengamat soal validasi sampel dan sebaran demografinya yang tak mewakili secara nasional sudah cukup membuktikan mana yang lebih benar," katanya.
Sebelumnya, Presiden LRI Johan O Silalahi menyatakan pernah menantang Direktur LSI Saiful Mujani untuk mempertaruhkan lembaga surveinya bila ternyata hasilnya tidak valid. Saat itu Johan mengatakan dirinya tidak percaya dengan survei LSI yang menempatkan Demokrat masih memimpin. Sebab tidak ada perubahan apapun yang dilakukan SBY.
Hasil Survei LSI menempatkan pasangan SBY-Boediono dengan perolehan suara 33,03%, JK-Wiranto 29,29%, dan pasangan Mega-Prabowo 20,09%. Survei LRI ini dilaksanakan 2-5 Juni 2009 dengan margin of erorr -/+ 2,2 % pada tingkat kepercayaan 95%. LRI juga memprediksi Pilpres 2 putaran sedangkan LSI memprediksi pilpres akan berlangsung 1 putran dan dimenangkan SBY-Boediono dengan suara kisaran 70%. [mut/]