INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia perlu meniru langkah Bursa London yang khusus membuka bursa bagi para pengusaha kecil dan menengah (UMKM).
Ini pentinga dalam mencari modal tambahan melalui penjualan saham di London, sehingga pengusaha UMKM tidak perlu lari ke luar negeri.
"Bursa Efek Indonesia (BEI) selama ini hanya menerima perusahaan-perusahaan besar, sehingga kemudian timbul anggapan bahwa BEI hanya untuk orang kaya," kata mantan kepala Bappepam Marzuki Usman kepada pers di Jakarta, Rabu (10/6).
Marzuki, usai membuka seminar yang membahas bagaimana caranya pengusaha-pengusaha Indonesia mencari modal di luar negeri mengatakan, sekarang ini sudah banyak perusahaan UMKM yang asetnya mencapai miliaran rupiah.
Guna memperluas usahanya, mereka ingin juga masuk ke bursa, namun niat itu terhalang oleh anggapan bahwa bursa di Jakarta itu hanya bisa dimanfaatkan pengusaha-pengusaha besar.
"Saya juga baru tahu bahwa Bursa London memiliki beberapa bursa," kata Marzuki pada acara seminar yang disponsori Bursa London tersebut dan juga disponsori sebuah perusahaan konsultan Mazars.
"Banyak koperasi di tanah air yang asetnya sudah mencapai miliaran rupiah," kata Marzuki yang juga merupakan mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.
Ketika ditanya mengapa sampai timbul anggapan bahwa BEI hanya untuk perusahaan besar, ia menyebutkan salah satu masalahnya adalah banyak perusahaan underwriter yang enggan atau malas berhubungan dengan perusahaan-perusahaan kecil tersebut karena takut imbalan atau fee mereka hanya sedikit.
"Tapi kalau nantinya UMKM -UMKM boleh masuk bursa, maka imbalan mereka (underwriter, red) akhirnya menjadi besar juga," katanya.
Bursa London memberi istilah main market bagi perusahaan besar sedangkan perusahaan kecil dan menengah yang juga masuk Bursa London diberi istilah plus market.
"Karena itu, saya mengusulkan kepada pemerintah agar juga membuat plus market di BEI misalnya dengan nama BEI Plus," kata Marzuki yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia(ISEI) itu.
Data Bursa London menunjukkan bahwa UMKM yang masuk ke sana telah mencapai sekitar 200 perusahaan dengan nilai kapitalisasi tidak kurang dari 2,5 miliar Poundsterling. Sekitar 25 persen UMKM di London tersebut merupakan perusahaan internasional yang 20 persen di antaranya mempunyai kaitan bisnis dengan kawasan Asia Tenggara.
Marzuki juga mengatakan bahwa sekalipun krisis ekonomi masih melanda dunia termasuk Indonesia, sudah rmuncul berbagai tanda bahwa krisis tersebut akan berakhir di penghujung 2009.
"Karena itu, perusahaan-perusahan yang ingin masuk ke bursa atau melakukan IPO sudah harus mulai menyiapkan diri," kata Marzuki pada pembukaan seminar yang dihadiri para pengusaha.
Marzuki mengilustrasikan bahwa "kita jangan hanya berada di tepi pantai saja, tapi harus mulai berani berenang ke tengah laut." [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !