INILAH.COM, Washington - Bank Dunia akan merevisi proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dalam beberapa pekan mendatang.
Hal ini disamapaikan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dalam sebuah keterangannya kepada wartawan, Kamis (11/6) waktu setempat,
Zoellick mengatakan kreditor pembangunan yang berbasis di Washington itu diharapkan untuk melihat gelombang pengaruh berkelanjutan dari penurunan tajam yang akan memukul sebagian besar negara-negara paling rentan dan populasi yang paling padat.
"Pengangguran masih naik, baik di dunia maju dan berkembang," ujarnya. Ia mencatat adanya kenaikan sinyal atau bahaya dari destablisasi dan bahkan kembalinya risiko konflik.
Krisis keuangan global yang dimulai di pasar home mortgage (kredit perumahan) Amerika Serikat pada Agustus 2007 yang mempercepat jatuhnya bank investasi dari Wall Street, Lehman Brothers pada September, sekarang telah menyusup ke semua negara berkembang.
"Kami mulai melihat faktor-faktor seperti kenaikan kredit bermasalah (NPL) di ekonomi Afrika akibat kecenderungan turunnya pasar keuangan di negara maju yang memukul perekonomian riil dan kemudian berpindah ke ekonomi riil di negara-negara berkembang dan sekarang memukul sektor keuangan di negara berkembang," ujar Zoellick.
"Yang saya harap dapat dilakukan dalam pertemuan G8 mendatang adalah memberikan update di mana kita melihat tantangan bagi negara-negara berkembang selama 12 bulan mendatang atau lebih," katanya.
Ia mengatakan, pendanaan penting bagi bank International Development Association (IDA), anak perusahaan Bank Dunia yang fokus pada 78 negara miskin.
Permintaan bantuan IDA dan pinjaman bebas bunga sudah pada jalurnya dengan total lebih dari US$13 miliar, sebuah rekor tertinggi, untuk tahun fiskal 2009 yang berakhir pada 30 Juni, dibandingkan dengan US$11,2 miliar pada tahun lalu.
Dalam menanggapi pertanyaan apakah dia akan melobi untuk dana IDA di pertemuan G-8, Zoellick mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Italia harus mengambil beberapa langkah tambahan.
Negara-negara perlu terus memberikan dukungan finansial untuk negara-negara berkembang. Bahkan Meksiko dan Indonesia, dan untuk jangka waktu yang lebih panjang daripada orang yang diharapkan.
Zoellick memperingatkan bahwa kecenderungan ekonomi untuk menurun telah sangat menegangkan pada negara-negara pasca konflik, menunjuk Haiti, Liberia dan Afghanistan.
"Ini adalah negara yang sering sangat tergantung pada komoditas ekspor, pengiriman uang, bantuan pembangunan untuk menangani masalah darurat atau isu-isu keamanan, dan semua ini berada di bawah tekanan," katanya.
Bank 185 negara itu memperkirakan akan menyediakan antara 50 sampai 60 miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman selama tahun fiskal 2009.
Zoellick dalam sebuah pernyataannya, mendesak pertemuan G-8 bulan ini dan pada Juli untuk menindaklanjuti janji-janji yang dibuat pada pertemuan Kelompok 20 (G-20) di London pada April untuk memperbaiki pinjaman domestik dan aliran modal internasional. [*/cms]