Dalam program Barometer di SCTV bertema Mega Blak-blakan Berbicara 10 Juni 2009, terkesan kuat Megawati sebagai capres yang diusung koalisi PDIP-Gerindra itu meremehkan profesi wartawan. Sebuah sikap yang patut disayangkan. Mengapa?
Di forum itu Megawati menjawab audiens mahasiswa dengan balik bertanya. Ditanya soal cita-citanya, seorang mahasiswa menjawab lantang: Jadi wartawan! Mendengar jawaban itu, Megawati pun langsung menimpali: "Kok cita-citanya hanya menjadi seorang wartawan!"
Saya cukup kaget menyimak tanggapan itu. Dari tanggapannya, Megawati terkesan memandang begitu rendah profesi wartawan. Saya bertanya-tanya, kok bisa sebagai mantan presiden sekaligus capres, Megawati berpandangan demikian rendah terhadap profesi yang sangat mulia ini. Tidakkah Megawati menyadari dan memahami betapa wartawan sebagai alat kontrol sosial masyarakat mempunyai peran yang sangat besar di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Disadari atau tidak, jawaban Megawati sangatlah tidak pantas diucapkan oleh seorang calon Presiden RI. Saya ini tidak ingin menghakimi pendapat Megawati. Tapi sebagai anak bangsa, saya sangat kecewa dengan pandangan Megawati yang terkesan merendahkan profesi wartawan.
Oleh karena itu, menurut saya, perlu ada klarifikasi dan penjelasan konkret dari Megawati mengapa ia punya pandangan yang demikian. Apalagi pandangan itu dipertontonkan kepada jutaan pemirsa SCTV di seantero Nusantara.
Bung Karno, ayah Megawati, adalah seorang pemimpin besar yang, saya yakin, tidak pernah menganggap rendah profesi seorang wartawan atau jurnalis. Ingat banyak pemimpin besar dunia yang sebelumnya pernah menjadi jurnalis. Contoh: Whinston Churcill negarawan tersohor Inggris, Richard Nixon mantan Presiden AS, serta Presiden AS Barack Obama (Obama jurnalis kampus Harvard Law School).
Di Indonesia juga ada Bung Adam Malik sebagai mantan Wakil Presiden RI, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh jurnalis Indonesia. Tokoh besar lainnya khususnya sebagai wartawan antara lain: Mochtar Lubis, PK Oyong, Rosihan Anwar, Gunawan Mohamad, dan sedert nama lainnya. Kontribusi mereka sebagai wartawan kepada republik ini begitu besar, baik dalam gagasan maupun pemikiran kehidupan berbangsa dan bernegara.
Megawati mungkin lupa bahwa ia juga bisa dikenal di republik ini tidak terlepas dari peran rekan-rekan wartawan. Mudah-mudahan pandangan Megawati tersebut hanyalah suatu kekhilafan dan tidak mematahkan cita-cita si mahasiswa untuk tetap bertekad menjadi seorang wartawan!
Didi Irawadi Syamsuddin S.H., LL. M
didi@amirsyam.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !