Di dunia balap mobil Formula 1, penonton dan pengamat sering disuguhi data tentang bibit, bebet, bobot para pesertanya. Ini berlaku bagi mobil balapnya, pembalapnya, tim pendukung teknisnya, serta sponsor utamanya. Demikian pula perlombaan pasangan capres-cawapres di sirkuit Pilpres 2009.
Penulis lebih suka menggunakan paradigma perlombaan ketimbang pertarungan, karena memang yang dikejar adalah suara pemilih sah terbanyak, bukan penilaian hakim juri seperti di ring tinju misalnya.
Bermula dari untaian kalimat Pasangan Nusantara di beberapa
spanduk JK-Wiranto di beberapa spot di jalan-jalan raya kota Jakarta, seperti terlihat di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.
Ada julukan yang disingkat jadi PasNusa, tampaknya memang cerminan asal-usul peserta lomba, yakni JK (Sulawesi Selatan) didampingi istrinya (dari Sumatera Barat) dan Wiranto (dari Jawa Tengah) didampingi istrinya (dari Gorontalo). Sehingga terasa pas atau tepat bagi konstituen untuk mengusung JK-Wiranto sebagai PasNusa.
Dengan analogi yang sama, duet Mega-Pro juga dapat dibedah jatidirinya. Megawati berasal-usul dari Bali, Mojokerto (Jawa Timur), dan Sumatera Barat. S,edangkan Prabowo berasal-usul dari Sulawesi Utara dan Jawa Tengah. Sehingga bilamana Mega-Pro ditandai sebagai Pasangan Indonesia (disingkat PasIndo), maka boleh dikata pas atau tepat juga bagi para konstituennya.
Sementara itu peserta lomba SBY-Boediono di beberapa pemberitaan media sudah diindentikkan sebagai berasala-usul dari satu Jawa Timur. SBY dari Pacitan dan Boediono dari Blitar. Sehingga boleh dikata mengusung identitas Pasangan Blitar, kalau mau disingkat bisa menjadi PasTar atau PaStar, Pasangan Bintang.
Kebetulan makam salah satu Proklamator Republik Indonesia juga di
Blitar, maka boleh saja Pasangan Blitar ini diharapkan senantiasa mengusung aura sang Proklamator, semisal dengan kerapkali ziarah mohon petunjuk dari Sang Putra Fajar.
Bilamana telaah ini divisualisasikan pada ranah dua dimensi misalnya (karakteristik asal-usul peserta lomba) vs (tampilan keindonesiaan), maka akan lebih mudah digambarkan secara grafis pasangan mana yang dianggap dapat lebih menjangkau keterwakilan matra Indonesia.
Telaah dari sisi ini juga penting mengingat bahwa persatuan Indonesia sebagaimana diamanatkan sila ketiga Pancasila adalah strategis bagi kiprah sosok Presiden NKRI ke-7 masa bakti 2009-2014. Antara lain dalam rangka mengemban amanat Indonesia bermartabat di tengah perubahan kehidupan sosial ekonomi, agar tidak ganas dalam kepentingan strategi
ketahanan bangsa, sebagai tumpuan dasar bagi capaian Indonesia Digdaya 2045.
Semoga bermanfaat.
Pandji R. Hadinoto
barpeta45@yahoo.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !