INILAH.COM, Bali - Pergerakan harga minyak mentah yang sudah melewati US$ 70 per barel belum mengancam ekonomi Indonesia. Hal itu sudah dibuktikan saat mencapai harga US$ 140 per barel.
Hal ini diungkap Deputi Gubernur Senior sekaligus pejabat Gubernur Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom di Bali, Minggu (14/6). "Kenaikan harga minyak belum terlalu mengkhawatirkan, jadi tekanan inflasi dari output gap belum kelihatan. Selain itu, saya kira kenaikannya tidak akan setinggi tahun lalu," katanya.
Menurutnya, harga minyak memang salah satu faktor yang memengaruhi situasi ekonomi suatu negara. Salah satunya peningkatan pada tekanan inflasi walaupun masih tetap dapat dikendalikan pemerintah.
Saat kenaikan harga minyak tahun lalu merupakan yang tertinggi. Namun, ternyata kondisi Indonesia masih cukup baik. Meski saat itu, tekanan inflasi juga mencapai level yang tinggi. Dengan pengalaman tersebut dia meyakini kenaikan harga minyak tidak akan membahayakan perekonomian secara makro.
Kendati begitu, Miranda mengingatkan berapapun kenaikan harga minyak harus dikompensasi dengan peningkatan efisiensi. Sehingga gap, yang ditimbulkan dari biaya minyak bisa diganti dengan kenaikan produksi. Sehingga, semestinya di posisi berapapun harga minyak perekonomian masih bisa jalan dan inflasi bisa diredam.
"Jika ekonomi kita bisa melakukan efisiensi berapapun harga minyak tidak akan menjadi masalah. Beberapa upaya efisiensi misalnya di biaya produksi, peningkatan produktifitas tenaga kerja dan sebagainya," tambah Miranda.
Sementara itu mengomentari kenaikan harga berbagai komoditas, Miranda menyatakan kondisinya sama dengan minyak. Tahun lalu kenaikan harga komoditas mencapai puncaknya. Namun, Indonesia bisa melaluinya dengan baik.
"Memang saat ini terjadi lonjakan permintaan komoditas seperti di China yang memberikan stimulus hingga US$500 miliar. Akibatnya untuk memenuhi kebutuhan China harga baja, batu bara dan lainnya meningkat," jelas Miranda.
Miranda menambahkan China memang bisa mengalihkan cadangan devisa mereka untuk menambah belanja impor. Sehingga, komoditas dunia bisa tersedot. Akibatnya, harga berbagai komoditas terkerek naik. Akan tetapi, dengan kenaikan tersebut tidak akan menjadi ancaman bagi Indonesia.
Selama ini Indonesia menjadi salah satu pemasok besar kebutuhan komoditas China. Komoditas perkebunan seperti minyak sawit mentah, kakao, karet dan lainnya banyak ditujukan ke China. Begitu juga dengan komoditas pertambangan seperti batu bara, logam dan lainnya. Kenaikan harga bisa mendongkrak pendapatan dari ekspor, tetapi ekses yang ditimbulkan seperti lonjakan inflasi perlu diwaspadai bersama. [*/hid]