INILAH.COM, Jakarta - Isu neolib gencar dialamatkan ke cawapres Boediono. Cawapres dari capres SBY itupun tak kalah gencar membendung isu tersebut. Namun Theo F Toemion membeberkan praktek-praktek Boediono yang bernafaskan neolib tersebut.
Diceritakan Toemion, ketika itu Presiden Direktur Bank Mandiri ECW Neloe meminta ke Boediono boleh tidak pihaknya mengambil Bank Permata. Karena Bank Permata sudah di bon rekap oleh pemerintah yang nilainya puluhan triliun. Sehingga, menurut Neloe, seperti ditirukan Toemion, siapapun yang mengambil Bank Permata akan sangat untung.
"Tapi apa jawaban Boediono Standard Charter lebih bagus dari Bank Mandiri. Dan pihak Mandiri menyatakan kalau begitu menteri keuangan Inggris lebih baik dari menteri keuangan Indonesia," tutur Toemion dalam peluncuran buku 'Hancurnya Neokapitalisme-neoliberalisme. Uang dan Malapetaka Dunia,' di Gasebu LAPAS Kelas 1 Cipinang, Jakarta, Senin (15/6).
Melihat pernyataan Boediono tersebut, mantan Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal ini mengaku kecewa. Bahkan, menurut Toemion, Boediono menjadi agen untuk semua aset-aset Indonesia. Padahal, diungkapkan Toemion jika salah satu bank diambil oleh Bank Mandiri, justru memberikan potensi besar terhadap pengembangan bank di Indonesia.
"Padahal itu adalah bank nasional yang modalnya dari rakyat. Dan itu semua praktek neolib. Saya hormati pak Boediono sebagai sosok yang sederhana orang yang jujur. Tapi saya hitung biaya krisis bangsa akibat kebijakan yang dia buat selama menjabat sebagai pejabat di Bappenas, Menteri Keuangan dan Gubernur BI sampai triliunan," tandasnya. [jib]