INILAH.COM, Jakarta Sejumlah atribut kampanye pasangan Mega-Pro dan JK-Win mengalami pengrusakan. Hal ini dinilai sebagai bentuk adu domba dari pihak-pihak yang menginginkan adanya permusuhan di antara peserta Pilpres 2009. Karena itu Bawaslu diminta segera mengusutnya.
"Sebetulnya rakyat tidak perlu terhasut. Tapi memang ada motif di balik pengrusakan atribut itu. Pelaku mau memprovokasi, adu domba pendukung capres supaya ribut," kata pengamat politik Universitas Indonesia Arbi Sanit kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (15/6).
Pria berkuncir itu mengatakan, oknum pengadudomba itu tak suka kepada JK dan Prabowo, sehingga menyayat bagian mulut JK dan leher Prabowo. Tujuannya, tentu ingin menebar suasana permusuhan dalam Pilpres 2009.
"Selain itu, bisa saja yang melakukan partisan yang pro-SBY-Boediono. Tapi, saya kira tak perlu dibahas berlaut-larut. Karena kan ada Bawaslu yang seharusnya mengusut siapa pelakunya. Walaupun selama ini Bawaslu cuma kerja formalitas," paparnya.
Sebelumnya Bawaslu menyayangkan penyayatan pada bagian mulut JK di spanduk JK-Win dan pada leher Prabowo di spanduk Mega-Pro. Penyayat atribut tersebut bisa dijerat hukuman pidana. Bawaslu pun menunggu laporan dari masyarakat terkait pengrusakan atribut itu.
Spanduk JK-Win yang disayat banyak terlihat di sepanjang Jl KH Noor Ali hingga Pasar Sumber Arta, Bekasi. Selain itu, di TPU Karet Bivak, Jakarta, juga terlihat spanduk JK-Win disayat, dan spanduk Mega Prabowo, yang disayat tepat di leher Prabowo. [ikl/nuz]