INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (17/6) diprediksikan mengalami technical rebound. Pasalnya, saham sejuta umat ini sudah empat hari melemah. Investor direkomendasikan buy on weakness dengan target Rp 3.000 sampai akhir tahun.
Pengamat pasar modal, Dandossi Matram mengatakan, menyusul transaksi empat hari sebelumnya yang mengalami penurunan terus-menerus, saham BUMI hari ini akan mengalami technical rebound. Menurutnya, walaupun kenaikannya tidak akan terlalu besar namun BUMI tetap akan menguat.
Sebaliknya, Dandossi tidak melihat adanya potensi koreksi terhadap saham produsen batubara thermal ini. Menurutnya, dengan melihat track racord-nya, sulit bagi BUMI untuk turun di bawah Rp 2.000.
Sepanjang perdagangan memang bisa saja BUMI turun di bawah Rp 2.000 tapi akan ditutup pada level di atas Rp 2.000. BUMI punya peluang naik Rp 50 hingga Rp 100, katanya kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (16/6) malam. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham BUMI ditransaksikan melemah 25 poin (1,19%) ke Rp 2.075 per lembar.
Lebih lanjut Dandossi mengatakan, BUMI secara korporasi tidak ada masalah. Memang harga turun dalam beberapa pekan terakhir, namun hal itu akibat pemodal yang lebih fokus kepada saham lain yang belum bergerak naik. Artinya tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan dari pelemahan BUMI beberapa pekan terakhir.
Mengapa? Karena indeks masih kuat di atas level 2.000-an yang menunjukkan hanya terjadi switching dari BUMI ke saham lain. Pada saatnya, pemodal akan kembali melirik BUMI.
Dandossi sendiri meyakini peluang penguatan saham Bakrie Group khususnya BUMI sangat besar. Menurutnya, dengan kondisi politik saat ini di mana pasangan capres Jusuf Kalla-Wiranto semakin tinggi elektabilitasnya, harus juga menjadi pertimbangan investor untuk melirik saham Group ini.
Aburizal Bakrie sebagai pemilik Bakrie Group merupakan pihak yang berada di bawah naungan JK-Win. Menurutnya, peluang kemenangan JK-Win pada saatnya akan mendongkrak saham Grup Bakrie termasuk BUMI. Ini seharusnya memberikan kontribusi yang positif kepada saham-saham Grup Bakrie terutama BUMI, tandasnya.
Pasalnya, suka tidak suka, kinerja dari suatu emiten sangat dipengaruhi oleh kekuasaan politik. Karena itu, Dandossi menegaskan trend penguatan popularitas capres JK, akan memberikan imbas positif terhadap saham-saham Grup Bakrie. Ini saya pikir tinggal menunggu waktunya untuk investor melihat kondisi ini, imbuhnya.
Secara bertahap, lanjut Dandossi, pelaku pasar akan kembali mengumpulkan saham-saham Grup Barkrie terutama BUMI. Begitu JK-Win berpeluang besar untuk menang akan cukup kuat mengangkat saham Bakrie, paparnya.
Bagaimana dengan hasil keputusan Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) terkait tiga akuisisi BUMI? Menurut Dandossi, jika ternyata hasilnya menyatakan akuisisi itu kemahalan dan dibatalkan seharusnya berdampak positif bagi BUMI.
Pasalnya, BUMI bisa menghemat dananya. Begitu juga sebaliknya, jika ternyata harga akuisisi itu dinilai wajar, menurutnya tidak akan mengubah harga saham BUMI saat ini. Karena harga hari ini sudah memperhitungkan akuisisinya, ucapnya. Alhasil, apapun keputusan Mappi, sebetulnya akan memberikan dampak positif bagi kinerja BUMI.
Sebenarnya tidak ada suatu hal yang luar biasa yang ditunggu investor dari pengumuman Mappi. Investor hanya tinggal menunggu hasilnya saja apakah akuisisi itu jadi atau tidak? Ujung-ujungnya hanya itu sebenarnya. Tidak ada suatu hal yang luar biasa. Jadi, apapun keputusan Mappi tetap menguntungkan BUMI, tandasnya.
Dengan demikian, Dandossi merekomendasikan buy on weaknes untuk saham sejuta umat ini. Setelah itu hold untuk jangka panjang. Menurutnya, target harga BUMI bukan pada level Rp 2.500 melainkan Rp 3.000. Itu bisa tercapai di akhir tahun dan rumusnya BUMI tetap bergerak naik, pungkasnya.
Kemarin petang, Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah setelah lama mengikuti presentasi Mappi, mengatakan hari ini rencananya BUMI harus menghadap Bapepam LK. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana hasilnya kita tunggu Bapepam LK saja, ungkapnya.
Erry juga enggan berkomentar soal nilai akuisisi tiga perusahaan yang dilakukan BUMI dianggap terlalu mahal. Saya tidak mau berkomentar, katanya.
Di kalangan pasar telah beredar informasi bahwa penilaian versi Yanuar Bey, akuisisi PT Darma Henwa (DEWA) adalah Rp 2,412 triliun. Sementara hasil penilaian MAPPI sebesar US$ 4,7 miliar.
Sedangkan untuk PT Fajar Bumi Sakti menurut Mappi sebesar US$ 2,47 miliar dan dianggap terlalu tinggi oleh Mappi. Karena tidak mencerminkan harganya, jadi harus ada penyesuaian Rp 370 miliar. Untuk PT Pendopo Coal dari penilaian Mappi sebesar US$ 1,3034 miliar dianggap fair dan tidak perlu ada penyesuaian. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !