INILAH.COM, New York -- Munculnya pertanda lain atas pelemahan ekonomi mendorong para investor untuk berbondong-bondong melakukan aksi jual pada hari kedua ini (16/6).
Indeks memperpanjang penurunan pada Selasa ini, usai munculnya pemberitaan penurunan industri konstruksi rumah, perijinan gedung, dan inflasi. Penurunan tersebut jauh dibawah ekspektasi pasar.
Para investor kawatir terhadap kenaikan indeks yang terjadi dalam tiga bulan masihlah terlalu prematur untuk dikatan sebagai tanda dari pulihnya ekonomi.
Namun para anallis tidak terkejut dengan pemikiran para investor tersebut.
"Sangatlah tidak beralasan kalau kenaikan di pasar tidak akan pernah turun lagi," ujar director of research Canaccord Adams, Eric Ross.
Para analis mengatakan investor membutuhkan bukti lebih terhadap pertumbuhan untuk mengulangi reli, untuk mengalahkan kekawatiran yang mulai tumbuh dari adanya pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), tingginya harga komoditas, dan meningkatnya suku bunga akan menjatuhkan pemulihan ekonomi.
"Harus ada pergerakan yang konstan atas sentimen positif untuk mendorong segala sesuatunya lebih tinggi," ujar director of trading Charles Schwab, Randy Frederick, " sayangnya kita tidak memilikinya."
Pelemahan yang terjadi pada dolar AS dalam bulan ketiganya, mendorong harga komoditas lebih tinggi. "Pasar dalam kondisi jenuh beli saat ini dan yang dibutuhkan adalah konsolidasi," ujar chief executive Merriman Curhan Ford, Jon Merriman.
Pelemhn dolar AS kembali terjadi usai penasihat ekonomi Kremlin menyatakan Rusia kemungkinan akan mengambil bagian dalam penerbitan obligasi Brazil, Cina, dan India.
Pada perdagangan Selasa (16/6), Dow Jones turun 107,46 (1,3%) ke 8.504,67, S&P 500 turun 11,75 poin (1,3%) ke 911,97, dan Nasdaq turun 20,20 (1,1%) ke 1.96,18. [mre/cms]