INILAH.COM, Damaskus Perkembangan dunia Arab selalu menjadi perhatian Presiden AS Barack Obama. Demi mendamaikan perselisihan menahun Israel-Palestina, Amerika pun melirik Suriah, negara yang dianggap sebagai kunci perdamaian kawasan itu.
AS-Suriah sebenarnya berbagi kewajiban yang sama di kawasan Timur Tengah karena Suriah memiliki peranan penting dalam mencapai perdamaian yang komprehensif. Ini berarti, kedua negara harus menciptakan suasana negosiasi agar perundingan bisa berjalan sukses, ujar George Mitchell, utusan AS untuk Timur Tengah beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui, Suriah mendukung keberadaan kelompok militan Hamas, faksi dari Palestina yang sejak pertengahan 2007 menguasai Jalur Gaza. Kelompok inilah yang selalu mempersulit perundingan Palestina dengan Israel. Selain menolak berdamai dan mengakui keberadaan Israel.
Adapun George Mitchell dikenal akrab dengan Suriah, terutama sejak 2005, saat AS kembali mengirim utusan ke kawasan itu. Atas tujuan perdamaian, ia bahkan telah berdiskusi langsung dengan Presiden Suriah, Bashar Assad di ibukota, Damaskus.
Menurut Mitchell, jika Suriah melakukan pendekatan melalui Palestina, AS bisa masuk ke pihak lainnya, yaitu Israel. Hubungan ini dimanfaatkan AS untuk menjalin hubungan intensif dengan Suriah, terindikasi dari peningkatan aktivitas kunjungan.
Dalam beberapa bulan terakhir, dua pejabat AS yaitu Asisten Menlu Jeffrey Feltman dan ahli Timur Tengah di Gedung Putih, Daniel Shapiro terlihat berkunjung ke negara itu.
Pemerintahan Obama berharap, perpanjangan tangan secara diplomatik itu dapat memberi dorongan kepada Suriah untuk berperan lebih positif dalam perdamaian Timur Tengah. Apalagi AS juga ingin mencari dukungan Suriah untuk aktivitas mereka di Irak yang belum usai.
"Diskusi dengan Presiden Assad sangat substantif dan kami banyak membahas isu-isu serius dalam konteks hubungan bilateral kami. Hubungan ini akan kami bangun dengan rasa saling pengertian dan minat yang sama," lanjut Mitchell.
Potensi Suriah sebagai juru damai Timur Tengah mulai terlihat beberapa tahun terakhir, ketika mereka mempertimbangkan kemungkinan untuk berunding dengan Israel. Suriah pun tahun lalu sempat mengadakan pembicaraan dengan Israel, melalui Turki sebagai mediator. Namun sayang, diskusi itu terputus di tengah jalan saat Israel memutuskan menginvasi Gaza, akhir Desember 2008.
Hubungan AS dan Suriah sebenarnya tidak bisa dikatakan kondusif. Hal ini berawal dari kritik AS pada masa pemerintahan mantan Presiden George W Bush atas keputusan Suriah yang mengizinkan militan memasuki perbatasan mereka. Hingga kini, sanksi ekonomi yang menekan Suriah agar mau menjalin kerjasama, juga belum dicabut.
Selain itu, pada 2005 silam, negara adidaya itu juga menarik semua utusan mereka, usai pembunuhan mantan PM Libanon Rafik Hariri di Beirut. Banyak politisi Libanon menuding Suriah berada di belakang pembunuhan itu, meskipun menyangkal tudingan itu.
Bagaimanapun kondisinya, setelah melakukan pembicaraan dengan AS, Suriah menyatakan kesediaannya melanjutkan pembicaraan dengan Israel. Namun, mereka mensyaratkan serdadu Yahudi untuk mundur dari Bukit Golan, sebuah plato strategis yang direbut Israel dari Suriah saat perang di 1967. Ketika itu, usai memenangkan perang, Israel langsung menyatakan kedaulatannya sebagai sebuah negara.
Masalah Bukit Golan inilah yang selalu menghambat pembicaraan AS-Suriah. Apalagi Israel juga menolak penghentian aktivitas pembangunan pemukiman Yahudi yang mencaploki kawasan Palestina.
Namun, upaya itu tampaknya membutuhkan kerja keras. Pasalnya, PM Israel Benjamin Netanyahu tak bersedia mengembalikan keseluruhan teritori yang diperebutkan. [E2]