INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bumi Resources (BUMI) Senin (22/6) mengalami rebound atas koreksi sebelumnya. Namun, untuk menguat lebih jauh, BUMI masih butuh dorongan aksi beli yang cukup besar dari investor.
Pengamat Pasar modal Dandossi Matram mengatakan, saham BUMI berpotensi menguat menyusul kejelasan akusisi yang dilakukan perseroan senilai Rp6,18 triliun. Hasil penilaian Masyarakat Profesi Penilai Independen (Mappi) membuat Bapepam memutuskan tidak ada masalah lagi terkait ambil alih saham BUMI.
Namun, belum masuknya investor yang melakukan pembelian BUMI dalam jumlah besar turut menahan penguatan emiten ini lebih lanjut. Hari ini, saham batu bara thermal ini akan bergerak pada kisaran Rp1.900 hingga Rp2.000. Namun, arahnya lebih kuat ke Rp2.000 daripada ke Rp1.900, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Senin (22/6), sesi pertama, saham BUMI ditutup menguat 20 poin (1,03%) ke level Rp1.960, dengan harga tertinggi mencapai Rp1.990. Volume transaksi mencapai 166,09 juta lembar saham senilai Rp 162,6 miliar dan ferkuensi 2.374 kali.
Berikut ini wawancara INILAH.COM dengan Dandossi Matram:
Bagaimana Anda memprediksi pergerakan BUMI har ini?
Hari ini BUMI akan berbalik arah ke level Rp2.000. Saya melihat saham ini akan bergerak pada kisaran Rp1.900 hingga Rp2.000, dengan kecenderungan ke Rp 2.000. Tapi memang, level saat ini merupakan level stagnasi. Meskipun hasil evaluasi Masyarakat Profesi Penilai Independen (Mappi) sudah diumumkan oleh Bapepam-LK
Apa ada peluang koreksi?
Ya. BUMI ada peluang terkoreksi akibat adanya tekanan jual dari ex-repo saham-saham BUMI. Inilah yang sebetulnya sedikit menahan penguatan BUMI. Itu dugaan saya, karena banyak repo yang ditransaksikan pada level Rp2500, Rp2.600, dan Rp2.200.
Akibatnya, pada saat harga BUMI mencapai level Rp 2.200-an pemilik saham ex repo BUMI aktif melakukan aksi jual. Karena, mereka lebih membutuhkan cash dari pada sahamnya. Ini juga yang bisa jadi membuat kenaikan saham BUMI masih sedikit tertahan. Ketika saham BUMI pada level-level Rp2.000 ke atas mereka menjual BUMI.
Artinya, ketika market positif belum tentu positif juga bagi BUMI?
Seperti saham pada umumnya, BUMI juga mengikuti pergerakan pasar global, regional dan lokal. Jika pasar global, regional dan lokal lemah BUMI juga akan terpengaruh. Begitu juga ketika market sedang naik, saham ini juga akan naik.
Uniknya pada saat penguatan, harga BUMI sedikit terhambat oleh aksi pemegang saham BUMI ex repo. Buktinya, ketika saham-saham Bluechips naik, saham BUMI masih agak tertahan.
Sentimen apa yang bisa menjadi penggerak BUMI lebih jauh?
Belum ada sentimen baru yang bisa membuat harga BUMI bergerak naik lebih tinggi lagi. Penggerak BUMI yang baru adalah pembelian dalam jumlah besar oleh investor. Belum masuknya investor yang melakukan pembelian BUMI dalam jumlah besar turut menahan penguatan BUMI lebih lanjut. Namun, menurut saya ini tinggal soal waktu saja untuk BUMI bisa bergerak lagi.
Meskipun BUMI pekan lalu turun, namun penjualan BUMI tidak dalam jumlah yang signifikan. Investor pun cenderung melakukan aksi hold dalam posisi BUMI saat ini. BUMI menunggu investor besar masuk untuk mendorong kenaikan harganya. Karena faktor negatif BUMI sendiri sudah tidak ada.
Kemudian, over value akuisisi BUMI atas PT Fajar Bumi Sakti sebesar Rp370 miliar menurut saya sangat menguntungkan BUMI. Karena, BUMI tidak harus membeli dalam harga yang lebih mahal. Kelebihan uang itu akan kembali ke BUMI. Artinya, BUMI memiliki tambahan dana. BUMI tidak
perlu mengutang kembali. Itu merupakan faktor positif juga.
Lantas, apa rekomendasi Anda?
Saya rekomendasikan buy untuk BUMI, untuk kemudian dikoleksi (hold). Artinya, buy on weakness. Karena, kenaikan BUMI sebelumnya yang luar biasa dari Rp 400-an hingga level saat ini Rp 2.000 memicu investor untuk melakukan aksi profit taking.
[E2]