INILAH.COM, Yogyakarta - Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dinilai pandai mengelola isu yang menyebabkan elektabilitas capres nomor urut 3 itu terus meningkat. Seruan Pilpres Satu Putaran kubu SBY-Boediono bisa mentah karena JK.
"Kecerdikan pasangan JK-Win itu bisa membuat kemungkinan pemilihan presiden dan wakil presiden hanya satu putaran akan semakin kecil," kata pengamat politik asal Universitas Gadjah Mada Abdul Gafar Karim, di Yogyakarta, Senin (22/6).
Menurut dia, kemampuan JK-Wiranto dalam mengelola isu tersebut dapat menarik massa yang sebelumnya menjadi pendukung dua pasangan capres lain, utamanya SBY-Boediono berpaling ke pasangan nomor urut tiga itu.
"Selama ini, pasangan SBY-Boediono sepertinya hanya menjadikan masyarakat menjadi tempat untuk menumpahkan isi hati," ujarnya.
Isu yang mampu dikelola dengan baik oleh pasangan JK-Wiranto adalah kesejahteraan masyarakat, swasembada di bidang pertanian, kemandirian dan mampu memberikan jawaban tegas menyangkut permasalahan bangsa.
Selain itu, meski elit politik dari parpol tertentu telah menyatakan dukungan kepada pasangan SBY-Boediono, tetapi basis massa dari parpol tersebut masih lebih memilih pasangan JK-Wiranto.
Abdul Gafar menegaskan, apabila pemilihan presiden harus dilakukan dalam dua putaran, maka kemungkinan pasangan yang akan bersaing adalah pasangan nomor urut dua dan tiga, sedangkan pasangan nomor urut satu akan tersisih pada putaran pertama.
Megawati sebagai calon presiden yang berpasangan dengan Prabowo Soebianto memiliki pemilih yang loyal. Namun, katanya, jumlah pemilih tradisional tersebut belum mampu bersaing dengan kedua pasangan capres dan cawapres.
"Intinya adalah bagaimana pasangan calon presiden dan wakil presiden mampu memainkan isu kepada masyarakat, karena masih ada pemilih mengambang yang baru akan menentukan pilihan menjelang atau saat hari H," ujarnya.
Ia juga berharap, masyarakat menjadi pemilih yang cerdas dan tidak memilih hanya karena mendapatkan imbalan materi.
"Sejak pemilihan legislatif lalu uang itu akan selalu beredar, begitu pula saat pilpres. Tetapi masalahnya, hal itu tidak dapat terjangkau oleh regulasi," ujarnya.
Sementara menyangkut kampanye pemilihan presiden sebaiknya hanya satu putaran saja mengingat isu kerusuhan yang akan terjadi, alasan yang dikemukakan tidak masuk akal.
"Isu kerusuhan itu lebih kepada perang psikologis semata dan tidak ada yang bisa memaksakan bahwa pemilihan presiden hanya satu putaran saja," pungkasnya. [*/ana]