SETELAH pasarnya digerogoti Pepsi pada awal 1980-an, Coca Cola Company menggelar survei. Hasil survei itu lalu diterapkan. Tapi bukannya merebut kembali pasar yang
hilang, justru penjualan Coke makin anjlok. Mengapa?
Setelah diselidiki ternyata survei berbiaya
US$4 juta itu hanya berfokus pada rasa, tanpa melihat pandangan warga AS tentang
Coke sebagai identitas bangsa.
Survei memang bukan ilmu eksakta yang penuh kepastian. Di Iran, survei yang diduga didanai pihak asing menyebutkan kemenangan Mousavi atas Ahmadinejad. Tapi hasil pemilu berkata lain, hal ini menimbulkan kecurigaan adanya kecurangan. Kubu Mousavi berdemo menginginkan pemilu ulang, maka terjadilah demo berdarah.
Dari kejadian di atas sebaiknya lembaga survei di Indonesia lebih arif lagi dalam mempublikasikan hasil survei, terutama di tengah banyaknya indikasi kecurangan dalam pemilu. Apalagi sampai meyakinkan publik akan terjadinya pilpres satu putaran. Jika tidak terjadi pendukung SBY akan kecewa, jika terjadi pihak lawan curiga telah dicurangai.
Rianto Nugroho
ryanthonugroho@yahoo.com [L1]