Minggu, 27 Mei 2012 | 03:08 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Belajar dari Survei Coca Cola dan Iran
Oleh:
web - Selasa, 23 Juni 2009 | 13:45 WIB
SETELAH pasarnya digerogoti Pepsi pada awal 1980-an, Coca Cola Company menggelar survei. Hasil survei itu lalu diterapkan. Tapi bukannya merebut kembali pasar yang
hilang, justru penjualan Coke makin anjlok. Mengapa?


Setelah diselidiki ternyata survei berbiaya
US$4 juta itu hanya berfokus pada rasa, tanpa melihat pandangan warga AS tentang
Coke sebagai identitas bangsa.
Survei memang bukan ilmu eksakta yang penuh kepastian. Di Iran, survei yang diduga didanai pihak asing menyebutkan kemenangan Mousavi atas Ahmadinejad. Tapi hasil pemilu berkata lain, hal ini menimbulkan kecurigaan adanya kecurangan. Kubu Mousavi berdemo menginginkan pemilu ulang, maka terjadilah demo berdarah.
Dari kejadian di atas sebaiknya lembaga survei di Indonesia lebih arif lagi dalam mempublikasikan hasil survei, terutama di tengah banyaknya indikasi kecurangan dalam pemilu. Apalagi sampai meyakinkan publik akan terjadinya pilpres satu putaran. Jika tidak terjadi pendukung SBY akan kecewa, jika terjadi pihak lawan curiga telah dicurangai.

Rianto Nugroho
ryanthonugroho@yahoo.com [L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
6 Komentar
kat_midjo
Jumat, 26 Juni 2009 | 08:42 WIB
survei kan memang sampling to mas? masa nggak ngerti? itu juga ada ilmunya dan survei sama sekali bukan prediksi, itu potret kondisi saat survei survei bisa saja salah, tinggal kita saja gimana mau memanfaatkan hasil survei itu
Markotob
Rabu, 24 Juni 2009 | 20:02 WIB
Betul, lembaga survey harus lebih independent. kalo gak independent jgn jadi lembaga survey. Jadi gak ilmiah lagi, gitu donk
adji
Rabu, 24 Juni 2009 | 07:17 WIB
lembaga survey hanya menyurvei sangat-sangat sedikit warga indonesia dari 200jt penduduk indonesia, yang disurvey "cuma" 6rb atau 10rb orang di satu kota terus dikatakan jumlahnya sekian persen yang sedikit itu dari 200jt aja ga sampe 1% pikir donk
ormas
Selasa, 23 Juni 2009 | 21:29 WIB
tidak ada yg bisa dipercaya di negeri ini... salah satu agenda capres mendatang seharusnya mereformasi para Jaksa di Indonesia.
Al
Selasa, 23 Juni 2009 | 21:08 WIB
Singkat, padat, jelas. Lembaga survey memang bisa jadi salah satu alat politik, selain media massa.
Achmad Choiron
Selasa, 23 Juni 2009 | 16:09 WIB
Saya kira membandingkan kasus pemilu terkait lembaga survey di Iran dan Indonesia rasanya enggak tepat. Kalau di Iran, lembaga survey memenangkan oposisi tetapi kenyataannya malah incumbent yang menang. Sedangkan di Indonesia-kan justru Incumbent yang dimenangkan oleh semua lembaga survey. Saya kira enggak perlu paranoid pada hasil kerja lembaga survey. Kerusuhan di Iran pasca pemilu kan emang didalangi oleh musuh-musuh Iran.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.