Sabtu, 26 Mei 2012 | 16:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
TV Plasma Susul CRT Gulung Tikar
Headline
istimewa
Oleh: Budi Winoto
web - Selasa, 23 Juni 2009 | 21:34 WIB
INILAH.COM, Jakarta Panasonic menghentikan TV tabung karena permintaannya turun drastis dan beralih konsentrasi ke TV plasma dan LCD. Tapi TV plasma bisa terancam oleh TV LCD. TV plasma bisa bernasib sama dengan TV tabung?.
Kekhawatiran TV plasma akan segera berakhir setelah banyak produsen yang menghentikan produksinya. Terakhir Pioneer mengumumkan akan mematikan bisnis TV-nya. Ini sesuatu yang dramatis, karena tahun lalu TV plasma Pioneer mampu membuat heboh dunia.
Meskipun pengembangan teknologi ini terus berlanjut, tapi masalah di industri plasma tak bisa dihindarkan. Plasma pernah mengalami masa kejayaan pada periode 2004 hingga 2006. Saat itu plasma mengambil alih TV proyektor sebagai TV ukuran besar.
Tapi plasma mengalami masa berat, karena harganya tidak mampu turun meskipun volume penjualan sudah semakin meningkat. LCD juga semakin menarik konsumen karena harga yang lebih murah, serta teknologinya yang semakin baik.
Apalagi setelah resesi menjangkiti dunia, hanya sedikit yang mampu menjangkau TV plasma kualitas premium. Di saat sama, teknologi LCD telah mencapai standar yang dulunya hanya dimiliki plasma. Pada awal 2009 penjualan LCD secara global telah melampaui plasma 8 banding 1.
Vice President Director PT Panasonic Gobel Indonesia, Reinaldi Sjarif membantah TV plasma tidak akan mampu bertahan. Ia mengatakan permintaan TV plasma masih kuat terutama untuk memenuhi konsumen yang memerlukan TV layar besar.
TV plasma untuk memenuhi kebutuhan TV di atas 42 inci. TV plasma tidak ada yang ukuran lebih kecil, karena kalau lebih kecil harganya akan jadi mahal, katanya di Jakarta, kemarin.
Ia menambahkan potensi pasar flat TV di Indonesia sangat besar. IMF menyebut Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang memiliki pertumbuhan positif, bersama dengan India dan China. Pada 2009 pasar flat TV akan naik 40% dari tahun lalu. Sedangkan pada 2010 akan naik 30%. Sedangkan pasar plasma tahun ini naik 35%.
Panasonic tahun ini menargetkan bisa menjual 70 ribu unit flat TV. Saat ini, Panasonic adalah penguasa pasar plasma TV di Indonesia dengan porsi di atas 40%. TV plasma ditargetkan tinggi, karena Panasonic memiliki 70% paten, sehingga harus nomor satu, imbuhnya.
Untuk menguasai pasar flat TV, Panasonic akan lebih fokus dengan menghentikan TV tabung. TV tabung itu dihentikan karena kebutuhannya turun 90% pada tahun lalu.
Sementara untuk TV LCD, Panasonic akan masuk ukuran kecil. Hal itu untuk menjadikan jajaran produk lebih inovatif.
Reinaldi mengatakan TV LCD Panasonic yang dipasarkan di Indonesia diimpor dari Malaysia. Sementara untuk plasma high end, diimpor dari Jepang. Sedangkan yang mid end didatangkan dari Singapura.
Selain itu Panasonic menambah jajaran produk yang ditawarkan dari 19 inci sampai 103 inci. Sementara ukuran 31 inci diutamakan dengan jumlah model yang ditawarkan lebih banyak.
Lalu apakah harga TV plasma bisa bersaing? Reinaldi mengatakan Panasonic menetapkan harga bersaing dengan tujuan meningkatkan daya saing. Namun bukan berarti Panasonic membanting harga. Panasonic menawarkan value for money, ada barang ada harga, katanya.
Mengenai produsen TV plasma yang menghentikan produksi Reinaldi mengatakan banyak alasan. Namun khusus untuk Pioneer sudah dibeli Panasonic. Selain itu Panasonic juga mengincar Sanyo. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.