INILAH.COM, Ohio - Dolar AS yang kembali anjlok menjadi pendorong kenaikan harga minyak pada perdagangan Selasa (23/6). Hal ini menyudahi penurunan harga minyak yang terjadi selama dua hari terakhir.
Harga kontrak minyak acuan untuk Agustus pada New York Mercantile Exchange naik US$ 1,74 menjadi US$ 69,24 per barel.
Adanya sedikit optimisme pada pemulihan ekonomi, yang akan mendongkrak pasar energi, namun lemahnya dolar AS menjadi faktor penting bergeraknya harga-harga sumber energi di Nymex baik minyak maupun gasolin.
Minyak dihargai dalam dolar AS dan uang datang membanjiri pasar melalui investor. Minyak menjadi pelindung dari inflasi. Dolar AS jatuh 2,37 sen dari Euro pada perdagangan Selasa (23/6).
Para ahli energi percaya dengan jatuhnya nilai tukar dolar AS telah menjadi pendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa bulan. Sementara harga gas ritel terus naik dalam dua bulan hingga Senin lalu, walau nantinya diperkirakan akan kembali turun pada musim panas mendatang.
Seberapa besar pengaruh dolar AS akan terlihat jelas pada Rabu nanti, sehubungan dengan pertemuan Federal Reserves yang membicarakan tingkat suku bunga AS.
Sentimen lainnya adalah seberapa besar permintaan terhadap minyak dan gasolin, Rabu ini pemerintah akan melansir laporan suplai mingguan.
Jutaan barel gasolin disimpan dalam gudang penyimpanan Departemen Energi AS, dan nampaknya laporan pekan ini tidak akan berbeda jauh pada laporan Rabu ini.
Pada perdagangan Nymex, harga gasolin untuk kontrak Juli naik 3,35 sen menjadi US$ 1,89 per galon sementara heating oil naik 4,15 sen menjadi US$ 1,77. Sedangkan harga gas alam untuk Juli naik 6,4 sen menjadi US$ 4 per 1000 meter kaki kubik.
Di London, harga Brent naik US 1,82 menjadi US$ 68,8 per barel pada bursa ICE Futures.[mre/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !