Senin, 28 Mei 2012 | 15:47 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Iklan ‘Lanjutkan' Menkop Konfrontatif
Oleh: Fitriya Usman
web - Rabu, 24 Juni 2009 | 08:40 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Iklan Kementerian Negara Koperasi dan UKM dinilai tidak etis. Sebab, menggunakan kata 'lanjutkan' di akhir paket komersialnya. Namun, penggunaan kata yang merupakan jargon kampanye SBY-Boediono itu harus dilihat secara kontekstual.

Hal itu diungkapkan guru besar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya kacung Marijan saat berbincang dengan INILAH.COM, Rabu (24/6). Ia mengaku belum pernah melihat iklan yang dibintangi Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadarma Ali tersebut. Sehingga dia tidak bisa mengungkapkan dengan jelas konteks iklan tersebut.
Yang pasti, kata dia, jika materi iklan itu dimaksudkan untuk menggambarkan pertumbuhan koperasi tidak menjadi masalah. "Kalau di tengah-tengah (kata lanjutkan) itu tidak apa-apa. Karena itu kan Bahasa Indonesia yang siapa aja boleh gunakan," jelasnya

Akan berbeda, kata Kacung, jika kata lanjutkan digunakan di akhir paket iklan. Itu tidak pas dan tidak etis, dan itu termasuk iklan konfrontasi," ujarnya.

Kacung menyebutkan, untuk menilai iklan itu harus melihat berdasarkan konteksnya. Ia mencontohkan jika ada seorang guru yang mengatakan lanjutkan, tentu sah-sah saja. Seperti ungkapan mari lanjutkan pelajaran. Jadi, konteks 'lanjutkan' itu apa? kata lanjutkan kan bukan berarti pendukung SBY," katanya. [nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
olivia santoso r
Minggu, 28 Juni 2009 | 20:37 WIB
Bukan hanya iklan DEPKOP, iklan DEPDIKNAS & iklan dr departemen lain sangat disayangkan. Abuse of power, sang incumbent menghalalkan segala cara utk menang mulai dr BLT, PNPM, Gaji ke 13, rapelan sertifikasi guru, penggunaan website resmi kepresidenan. Sangat kotor sekali, ternyata modal menang pileg, elektabilitas tinggi, dukungan 24 parpol, sumber dana paling besar. Kok masih menggunakan cara2 seperti itu ya....NEO ORDE BARU
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.