INILAH.COM, Surabaya - Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) menyiapkan dana Rp600 miliar untuk kredit sindikasi Tol Tengah Surabaya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asbanda, Moeljanto, di Surabaya, Rabu (24/6), menjelaskan, sebenarnya total nilai kredit yang dibutuhkan untuk keseluruhan proyek sepanjang 25 kilometer dari Waru ke Perak sebesar Rp1,6 triliun.
"Sementara, secara keseluruhan nilai proyek untuk Tol Tengah Surabaya senilai Rp5,3 triliun," katanya.
Terkait sisa dananya, kata dia, akan berasal dari pendanaan pemerintah baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Ini karena kami merasa cukup berat jika dalam waktu singkat harus menyediakan dana Rp1,6 triliun. Apalagi, awalnya hanya ada 11 Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang berminat. Untuk bisa memenuhi kebutuhan dana pembangunan tol itu, ke depan kami akan menawarkan lagi pada 15 BPD lain agar berpartisipasi," katanya.
Ia berencana, pada bulan Juli mendatang akan mengundang semua BPD dan beberapa bank plat merah antara lain BNI, BRI, dan Bank Mandiri untuk menciptakan komitmen terhadap proyek yang digagas sejak 1997 ini.
"Kami berharap pemerintah mau membagi pembangunan tol ini menjadi beberapa seksi," katanya.
Hal itu, selain dana Rp600 miliar yang hampir dapat dipastikan bisa disediakan oleh beberapa BPD, jumlah itu juga sesuai dengan kebutuhan kredit sindikasi seksi satu untuk tol Waru-Wonokromo yang total dananya mencapai Rp1,7 triliun.
"Selama ini, faktor penghambatnya adalah pembebasan tanah yang tak kunjung selesai. Kemungkinan besar, jika dibagi per seksi kendala itu bisa diminimalkan," katanya.
Ia menyatakan, hanya sisa 20 persen tanah yang dibebaskan sebelum seksi satu dari tol tengah bisa dibangun. Sebab, sebanyak 80 persen dari tanah tersebut adalah milik dari pemerintah.
"Kalau ada kesulitan dalam pembebasan tanahnya, maka bisa dilakukan konsinyasi. Ini karena tanah yang ada telah lebih dari 70 persen seperti yang dipersyaratkan dalam peraturan perundangan," katanya.
Dalam rapat nanti, pihaknya akan meyakinkan kalangan perbankan dengan presentasi strategi pembangunan baik dari investor maupun kesiapan Pemprov Jatim dalam membantu pembangunan.
Pria yang kini menjabat Dirut Bank Jatim itu menambahkan, Bank Jatim sendiri telah menyiapkan dana sekitar Rp300-400 miliar.
"Kami juga memiliki beberapa rencana pembiayaan kredit sindikasi untuk 'power plant'(pembangkit listrik) di Lombok Utara yang nilai investasi proyeknya Rp100 miliar dan proyek pembangkit listrik di Madura," katanya. [*/hid]