INILAH.COM, Jakarta - Penurunan elektabilitas pasangan SBY-Boediono yang disebutkan Lembaga Survei Indonesia (LSI) tidak menunjukkan hal berarti. Inti dari hasil survei itu tetap menggiring opini masyarakat pada pilpres 1 putaran.
"Tidak ada tanda-tanda yang berarti, apalagi kalah. Penurunan juga tidak signifikan. Kan masih 60% lebih," kata guru besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Iberamsyah kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (24/6).
Menurut dia, hasil survei yang dilansir LSI dan lembaga survei lain tidak akan memengaruhi wacana yang sekarang sedang didengungkan. Sebab, penurunan elektabilitas itu masih dengan angka 50% ke atas
"Ini isu untuk capres yang berusaha dimenangkan. Lihat saja LSI, mereka terus-terusan membuat angka SBY paling tinggi. Itu trik untuk giring opini publik satu putaran," jelasnya.
Survei LSI dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 2 ribu resonden yang dipilih dengan multistage random sampling. Survei dengan margin of error +/-2,8% pada tingkat kepercayaan 95% ini menunjukkan SBY-Boediono dipilih 67% dari sebelumnya 70%, Mega-Pro cenderung stagnan di kisaran 16%. Sedang JK naik dari 7% menjadi 9%. [nuz]