SEHARUSNYA rilis LSI ditanggapi sebagai bahan lelucon saja, tidak perlu sampai bersitegang apalagi adu jotos.
Survei LSI memang lucu. Cobalah simak survei yang ditayangkan Metro TV pada 2 April lalu. Pada slide pertama terlihat grafik popularitas SBY berada jauh lebih tinggi dari pada Megawati. Lalu pada slide kedua, terlihat grafik popularitas JK, Prabowo, Sultan, serta Wiranto yang terus menurun. Saat ditanya mengapa Wiranto menurun.
Dody Ambardi, analis LSI menjawab, popularitas Wiranto menurun karena muncul capres lainnya. Lucu bukan! Apakah pemilih SBY dan Mega demikian loyal sehingga munculnya capres baru tidak menggoyahkan pilihannya, dan hal sebaliknya terjadi pada pemilih Wiranto. Lalu apakah Prabowo, JK, dan Sultan hanya sanggup mengambil pemilih Wiranto. Jika memang demikian makin banyak capres makin habis suara Wiranto.
Jika kita amati dari setiap rilis LSI memang sejak lama SBY menghendaki pilpres satu putaran. Dari rilis-rilis LSI terlihat lawan terberat tetapi yang dapat dikalahkan adalah Mega.
SBY tidak pernah memperhitungkan jika JK dan Wiranto tetap akan maju sebagai capres dan cawapres. Karena itulah sebagai lembaga yang didanai SBY, LSI selalu meng-counter setiap klaim JK-Win. Seperti Burhanuddin Muhtadi yang mengatakan isu jilbab tidak diterima publik. Padahal terlihat jelas jika publik sangat menerima isu ini.
Untuk Prabowo sendiri, sejak awal SBY tidak menghendaki kemunculannya. Langkah pencapresannya selalu dijegal, mulai dari memecah belah partai yang akan mendukung Prabowo seperti PAN
dan PPP sampai kesalahan perhitungan kursi oleh KPU. Jadi makin jelas jika LSI dan
KPU merupakan tim sukses SBY.
Rianto Nugroho
ryanthonugroho@yahoo.com [L1]