INILAH.COM, Jakarta - Majelis Ulama Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia meminta agar pemimpin organisasi keumatan di lingkungan warga nahdhliyin, PBNU sebaiknya tak melawan arus aspirasi umat. Elit PBNU diminta tidak berseberangan dengan umat di lapisan bawah.
"Sebaiknya memang pemimpin umat, tak melawan arus di tingkat grass root," kata Ketua umum Majelis Ulama Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia Noer Iskandar kepada wartawan di Jakarta, Kamis (25/6).
Menurutnya, pemimpin umat yang sudah terbawa dalam pengaruh dukungan dalam pilpres cepat atau lambat akan jatuh. Karena tugas dari pemimpin umat itu adalah melayani dan memimpin umatnya.
"Pemimpin umat itu dipilih rakyat untuk memberikan pelayanan, bukan sebaliknya minta dilayani. Justru akan cepat jatuh," ujar Noer.
Terkait elit PBNU yang mulai terjebak pada dukungan capres, Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Syariah DPP PPP ini, menyarankan agar elit PBNU tak perlu berkomentar soal semua kandidat. Karena akan menimbulkan interpretasi macam-macam.
"Sebaiknya pemimpin ormas Islam itu tak mengeluarkan statemen macam-macam agar umat tak bingung," katanya.
Ia mengaku tak khawatiran warga nahdhliyin akan pecah menghadapi pemilu presiden 2009. "Yang ada bukan perpecahan di warga NU, tapi hanya sebatas perbedaan saja. Kalau perpecahan itu mengarah ke anarkhisme, namun perbedaan tidak mengarah ke situ," ucap pengasuh Pondok Pesantren Asshidhiqiyah ini.
Warga NU, lanjut dia, sudah dewasa dalam menghadapi pemilu presiden. Oleh karena itu, sebaiknya PBNU menanyakan langsung warganya, mereka mau ke mana. "Warga NU itu sudah cerdas, sebainya pemimpin menanyakan ke umatnnya secara langsung dong," tutupnya. [ikl/ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !