Minggu, 27 Mei 2012 | 06:39 WIB
Follow Us: Facebook twitter
OECD: Resesi Ekonomi Dekati Titik Terendah
Oleh:
web - Kamis, 25 Juni 2009 | 09:27 WIB
INILAH.COM, Paris - Ekonomi negara maju akan terus tertekan hingga ke bagian terendah resesi dan mulai menyeret ke arah pemulihan lemah pada akhir tahun.

OECD (Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) mengatakan hal tersebut Rabu (25/6), sehubungan dengan revisi naik prakiraannya.

OECD mengatakan, 30 anggota ekonomi maju akan melihat pertumbuhan 0,7 persen tahun depan, merevisi proyeksi Maret untuk kontraksi 0,1 persen dan menempatkan hasil untuk 2008 ekspansi 0,8 persen.

Dikatakan, ini adalah yang pertama kalinya dalam 24 bulan terjadi revisi naik, bukan dengan menurunkan prakiraan, OECD mengatakan, gabungan output ekonomi negara-negara anggota OECD tahun ini akan menyusut 4,1 persen, dibanding 4,3 persen.

"Tampaknya seperti bila skenario terburuk telah terhindari dan ekonomi OECD sekarang mendekati bagian terendah. Sekalipun pemulihan kemungkinan lambat, itu merupakan hasil pencapaian kebijakan ekonomi," dikatakan dalam sebuah kajian regulernya.

Upaya 'memadamkan api' besar-besaran oleh pemerintah dan bank-bank sentral telah menarik dunia kembali dari jurang peristiwa bencana.

Lembaga yang berbasis di Paris ini mengatakan, pihaknya memperkirakan ekonomi AS mengalami kontraksi 2,8 persen tahun ini dan tumbuh 0,9 persen pada tahun 2010, dengan Jepang turun 6,8 persen sebelum kembali ke pertumbuhan 0,7 persen pada 2010. Sementara ke-16 negara zona euro akan menyusut 4,8 persen, dengan pertumbuhan nol pada 2010.

Sektor keuangan tetap di bawah tekanan dan bagian terendah resesi yang mungkin tercapai hanya dalam paruh kedua tahun berjalan, setelah pemulihan yang lemah yang diproyeksikan.

Terdapat tanda-tanda meningkatnya kegiatan aktivitas AS yang dapat keluar dari posisi terendah dalam waktu enam bulan dalam menanggapi tindakan pendukung luar biasa dan upaya pemulihan yang terkesan dalam gerakan paling besar di negara-negara di luar OECD, terutama China menyusul sebuah paket stimulus besarnya.

Jepang juga tampaknya mendekati akhir dari kecenderungan untuk menurun tajam, tetapi pemulihan disana akan lambat dan sejumlah besar dari cadangan kapasitas berlari ke risiko menyebabkan deflasi, sebuah periode berkelanjutan dari penurunan harga. "Di zona euro, tanda-tanda pemulihan belum terlihat jelas," kata OECD.

OECD mengatakan intervensi besar-besaran yang telah mengisi krisis ekonomi terburuk dalam 65 tahun dan berlanjutnya stabilisasi sektor keuangan dapat meningkatkan peluang untuk pemulihan. "Harus ada percepatan pengakuan kerugian di bank dan dibarengi dengan suntikan modal," katanya.

OECD mengatakan bahwa di antara bahaya segera dan ketidakpastian, ada prospek kenaikan besar dari pengangguran, yang justru akan mencapai 10 persen di Amerika Serikat dan lebih dari 12 persen di zona euro.

Ini pada gilirannya dapat menambah risiko deflasi dan mengurangi pengeluaran rumah tangga, pendorong utama dalam perekonomian.

Pemerintah harus melakukan yang paling penting untuk menjaga tingkat suku bunga sangat rendah, mendekati nol, dan terus mendukung sektor keuangan sampai pemulihan sedang berlangsung.

Pada saat yang sama, OECD mencatat bahwa suku bunga jangka panjang, seperti yang ditetapkan oleh imbal hasil (yield) obligasi, menjadi di bawah tekanan untuk meningkat karena pemerintah menerbitkan lebih banyak ebih banyak obligasi obligasi untuk menghimpun dana untuk paket stimulus dan tindakan lainnya.

"Krisis ekonomi akan melemparkan bayangan yang panjang," kata OECD seraya mencatat bahwa ekonomi akan muncul dari potensi yang lebih rendah dengan pertumbuhan yang berkelanjutan dari pada mereka sebelum krisis.

Eropa akan berisiko khususnya dari peningkatan dalam jangka panjang, pengangguran struktural, ia menambahkan. Terhadap latar belakang ini, maka penarikan dari tindakan pendukung tidak harus terlalu cepat.

OECD menganjurkan defisit anggaran dan utang, meningkat besar oleh tindakan anti-krisis, harus ditangani secara progresif, dengan tabungan 1,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun selama tiga sampai tujuh tahun.

Ini, sebagai paket rangsangan juga dihapus, ambisius namun belum pernah terjadi sebelumnya dan akan cukup untuk membawa anggaran mendekati keseimbangan atau bahkan menjadi kelebihan sehingga bola salju utang akan dicegah.

Ancaman kerusakan permanen menggarisbawahi pentingnya mempercepat reformasi struktural," ujar OECD, yang mengacu terhadap terus membuka pasar ke persaingan dan pengurangan pembatasan dan birokrasi dalam perekonomian. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.