INILAH.COM, Jakarta - Indonesia sejak dini perlu mengantisipasi terwujudnya kesepakatan Brasil, Rusia, India dan China ( BRIC) untuk membuat transaksi perdagangan dengan mata uang lokal karena kemungkinan terjadi monopoli sebagaimana dolar AS.
Pengamat ekonomi regional pusat penelitian (puslit) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wijaya Adi, di Jakarta, Jumat (26/6), mengatakan, blok perekonomian itu diarahkan untuk melindungi kepentingan mereka.
"Jadi belajar dari ketergantungan terhadap dolar AS, nilai rupiah senantiasa berfluktuasi karena dominasi perdagangan dikuasai Amerika Serikat sebagai negara adidaya," ujarnya.
Wijaya mengakui transaksi perdagangan telah dijalin Indonesia dengan Rusia yang 2008 lalu nilai ekspor mencapai Rp14 triliun. Sementara India dan China butuh minyak sawit, batu bara, karet, dan kertas Indonesia, ini terobosan pangsa pasar strategis.
Wijaya mengingatkan BRIC merupakan terobosan untuk mengatasi ketergantungan terhadap pasar tradisional dan dolar AS. Hanya saja, bila terwujud kesepakatan tetap menerapkan mata uang asing dari negara blok perekonomian baru tersebut.
"Indonesia harus siap agar kehadiran blok perekonomian baru itu tidak merugikan transaksi ekspor, minimal perlu juga menjaga kemitraan telah dijalin dengan AS," ujarnya.
Wijaya belum bisa menjamin transaksi perdagangan dengan mata uang lokal bila terwujud mempengaruhi nilai rupiah bakal stabil. "Tergantung realisasi pertumbuhan ekspor dengan menempatkan diri pada dua blok perekonomian, bila terobosoan kesepakatan BRIC terwujud Indonesia juga dihadapkan dominasi dolar AS selama ini," tegasnya.
Senada dengan Wijaya Adi, pengamat ekonomi Pande Radja Silahali mengatakan nilai rupiah tergantung transaksi perdagangan dengan anggota BRIC, sekiranya perekonomian negaranya kurang stabil pasti berpengaruh terhadap mata uang Indonesia.
Transaksi perdagangan dengan BRIC juga pastinya menggunakan mata uang yang nantinya diputuskan, jadi tetap sama dengan dolar AS yakni mata uang asing.
Hanya, kata Pande, terobosan BRIC untuk menggunakan mata uang lokal dan dolar AS masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, makanya Indonesia perlu mempersiapkan diri agar bisa berada pada dua blok perekonomian tersebut.
"Butuh waktu lama untuk BRIC wujudkan terobosan, terpenting terobosan BRIC bila terwujud menawarkan diversifikasi penawaran dunia yang selama ini didominasi dolar AS," kata Pande Radja. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !