INILAH.COM, Jakarta Politisasi agama kembali marak dalam hajatan demokrasi lima tahunan ini. Simbol dan isu agama masih menjadi dianggap instrumen penting dalam mobilisasi massa dalam meraih dukungan pemilih. Benarkah simbol agama mampu menarik massa?
Menurut peneliti senior The Wahid Institute (WI) Rumadi, simbol dan isu agama sulit memobilisasi dukungan pemilih untuk kepentingan politik. Kondisi ini tidak terlepas dari kondisi bangsa saat ini yang jauh lebih membutuhkan pimpinan negeri yang mampu mengatasi persoalan bangsa. "Masyarakat mencari pemimpin yang memberi solusi, bukan pemimpin yang beristri jilbab atau yang beragama tertentu," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (26/6).
Kendati demikian, staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menegaskan, politisasi agama dalam Pilpres 2009 ini jauh lebih minimal dibanding pemilu 2004 lalu.
"Ini berkat proses sekularisasi agama yang berjalan efektif," tandasnya.
Berikut wawancara lengkapnya:
Bagaimana Anda melihat isu agama kembali menyeruak dalam proses pemilu presiden 2009 ini?
Menurut saya, Pilpres 2009 ini patut kita apresiasi jika dibandingkan Pemilu 2004 lalu. Karena politisasi agama saat ini jauh lebih berkurang jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya.
Apa penyebab politisasi agama berkurang jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya?
Hal ini tidak terlepas dari efek proses sekularisasi agama. Dimana orang semakin sadar bahwa melakukan politisasi agama itu bukan hal yang baik.
Tapi bukankah politisi sadar tak sadar masih menggunakan agama sebagai instrumen penting dalam politik, seperti yang awalnya tidak berjilbab menjadi memakai jilbab lantaran suami maju dalam pilpres. Apa komentar Anda?
Memang menghilangkan sama sekali isu-isu keagamaan dalam politik adalah tidak mungkin. Pasti ada saja orang-orang yang berusaha menggunakan sentimen simbolik agama sebagai isu politik.
Apakah efektif isu agama untuk melakukan mobilisasi dukungan dalam Pilpres?
Saya melihat, isu seperti ini tidak akan banyak berpengaruh dalam penentuan pilihan. Masyarakat sadar, yang dicari adalah pemimpin bangsa yang bisa menyelesaikan problem bangsa, bukan mencari presiden yang isterinya berjilbab atau istrinya yang beragama apa. [L1[
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !