INILAH.COM, New York - Harga minyak pada perdagangan Jumat (26/6), mengikuti jatuhnya pasar modal. Pernyataan the Federal Reserve tentang akan terjadinya inflasi kembali tahun ini menimbulkan kekawatiran para spekulan.
Selama beberapa bulan terakhir, investor telah mengambil keuntungan dari minyak untuk menghindar dari pelemahan nilai tukar dolar AS. Hal ini mendongkrak harga minyak walau cadangan minyak tinggi di AS.
Harga acuan minyak untuk kontrak Agustus jatuh US$ 1,07 sen menjadi US$ 69,19 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara di London, harga Brent North Sea jatuh 86 sen ke US$ 68,92 per barel pada ICE Futures.
Suasana politik di Iran dan Nigeria juga turut mendongkrak harga minyak. Kedua negara tersebut adalah negara penghasil minyak terbesar, dan konflik yang terjadi di Iran bisa menghalangi ekspor jutaan barel minyak di Teluk Persia.
"Saya kira kita telah mendapatkan harga puncak bagi gasolin, namun kenyataan (di Iran) mengasumsikan tidak ada hal penting yang akan terjadi," ujar analis publisher and chief oil Oil Price Information Service Tom Kloza.
Sementara militan Nigeria menyatakan serangan mereka kepada Royal Dutch Shell, yang menjadi sumber di selatan Delta, adalah untuk merespon pernyataan pemerintah setempat yang menawarkan amnesti bila mereka menyerahkan diri.
Head of sales trading Saxo Capital Markets Singapura, Christoffer Moltke-Leth, menyatakan harga minyak akan menyentuh level US$ 75 per barel sebelum tergelincir US$ 60 per barel pada akhir tahun, seiring dengan kekawatiran akan pemulihan ekonomi.
Pada perdagangan Nymex, gasolin untuk kontrak Juli turun 2,42 sen menjadi US$ 1,87 per galon dan harga gas alam untuk kontrak Juli naik 11,6 sen menjadi US$ 4,10 per 1000 kaki kubik. [mre/cms]