Minggu, 27 Mei 2012 | 00:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Konsultan Politik SBY 2004 Vs 2009
Oleh:
web - Minggu, 28 Juni 2009 | 06:23 WIB
Langkah SBY menggunakan sebagai konsultan politik (Fox Indonesia) bukanlah yang pertama kali dilakukan capres incumbent itu dalam kampanye. Pada Pilpres 2004, SBY juga menggunakan jasa konsultan politik (Mc Leader) yang dipimpin Yon Hotman dan bermarkas di Blora Center.

Namun ada beberapa perbedaan yang nampak jelas dari Mc Leader (ML) dan Fox Indonesia (FI). Pertama, ML menempatkan SBY sebagai tokoh yang ingin lebih dekat dan FI menempatkan SBY sebagai The Real President. Hal ini tentu terkait dengan posisi SBY di Pilpres 2004 sebagai pendatang, sedang di Pilpres 2009 dalam posisi Bertahan.

Oleh karenannya, semangat untuk lebih dekat dengan pemilih sekarang mulai ditinggalkan. Ini terbukti dari tidak terkoordinasikannya jaringan pendukung dan peserta koalisi dengan baik. Pernyataan Ketua Umum Relawan SBY Faisal Riza Yoenoes yang beberapa waktu lalu mengkritisi FI dan Hatta Rajasa adalah indikatornya.

Menunjuk pada karakteristik masyarakat Indonesia yang kental dengan semangat kekeluargaan, maka meski bertahan konsep selalu menyapa dan mengunjungi semestinya masih perlu digunakan, apalagi semangat yang mulai digulirkan adalah menang satu putaran.

Kedua menggunakan strategi memanjakan media, sehingga slogan yang digunakan dalam mengembangkan Blora Center sebagai markas ML adalah The friendly home for the press. Bahkan Blora Center pada saat itu menyediakan dua unit komputer yang tersambung ke jaringan internet. Untuk mereka yang menghendaki melanjutkan diskusi santai, disediakan softdrink, makanan kecil, dan tempat diskusi.

Tidak heran, ketika kegiatan selesai digelar, wartawan masih berkerumun menikmati fasilitas gratis di rumah singgah ini. Dengan segala fasilitas yang memanjakan, Blora Center tidak pernah sepi, bahkan ketika tidak ada kegiatan apa pun. Ini bertolak belakang dengan yang dilakukan FI. Apabila merujuk pada Peristiwa Papua, yaitu penganiayaan wartawan oleh angota tim kampanye, di mana pada saat itu salah satu tim kampanye dan konsultan politik Rizal Malaranggeng ada di lokasi.

Ketiga, bersama tim kampanye 2004 mengembangkan konsep koalisi kerakyatan, sehingga model kampanye lebih banyak mengakomodir gaya atau selera tiap wilayah atau menghargai kreativitas lokal.

Ini berbeda dengan yang dikembangkan FI dan tim kampanye SBY 2009, di mana slogannya pun SBY Presidenku yang secara tidak langsung telah mengecilkan arti Boediono sebagai wapres yang memiliki keunggulan dan dukungan massa tersendiri.

Model kampanye yang diseragamkan ala Obama menunjukkan bahwa keragaman kerakyatan mulai ditinggalkan oleh konsultan politik SBY sekarang ini. FI dan ML sama sama dikomandai oleh seorang konsultanlulusan Amerika. Namun mungkin karena terinspirasi oleh kemenangan Obama, maka FI sekarang mengembangkan kampanye presiden Indonesia rasa Amerika, seperti membawa masyarakat pemakan nasi mencintai Indomie dalam lagu SBY Presidenku.

Keempat, meski pada Pilpres 2004 ML mengawal SBY untuk merebut tidak melakukan penyerangan. Ini berbeda dengan garapan FI, yang semestinya SBY melanjutkan tapi malah menyiapkan tim bayonet yang bertugas melakukan serangan, seperti yang disampaikan Ruhut Sitompul kepada Inilah.Com (3/6).

Dalam kasus selebaran yang berisi fotokopi tabloid Indonesia Monitor jelas bahwa tim bayonet-lah yang berjalan untuk menikam dan menyakiti. Bila FI memainkan fungsi konsultan politik yang santun, maka sebenarnya langkah hukum dan etika pers dilakukan sejak tabloid itu terbit dua minggu lalu.

Kelima, Yon Hotman sebagai pemimpin perusahaan tidak banyak tampil dan mendominasi dalam acara kampanye, karena menempatkan panitia pelaksana sebagai Event Organizer yang perlu diawasi. Ini beda dengan FI yang juga terlibat aktif sebagai EO dalam event kampanye.

Inilah sekilas yang kita perlu cermati tentang keberadaan konsultan politik di pilpres Indonesia. Sepertinya baru SBY-lah yang menggunakan (setidaknya yang secara luas diketahui) menggunakan jasa konsultan politik. Mc Leader di tahun 2004 dan Fox Indonesia di tahun 2009.

Meskipun begitu, rakyatlah yang tetap akan menentukan pada 8 Juli mendatang. Sebab suara rakyat adalah suara tuhan.

suryokoco adiprawiro
suryo.ebook@yahoo.co.id
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
ceng
Rabu, 1 Juli 2009 | 00:01 WIB
Setuju dengan bung cepat. Plagiat, gak kreatif, tukang contek, sok amrik kualitas ndeso. FOX Indonesia (FI), mana karyamu yg bikin kita sekadar kagum. Andai pula iklan media elektronik & cetak kampanye SBY, FI juga yg buat, sungguh sangat Rugi tim sby membayar mahal. Iklan mereka jadi bahan tertawaan saja, tak berkualitas, gak inovatif. bung rizal, coel, andi sebaiknya anda nonton tv dong. iklan mu itu lihat, agak katrok... Tapi andai saja FI itu konsultan baru, dan bukan dihuni orang2 besar, kami bisa memaklumi...
cepat
Minggu, 28 Juni 2009 | 08:19 WIB
kampanye yg menjijikkan,.. waktu sekolah "FI" cuman bisa nyontek doang,... Iklan nyontek Indomie,.. Kampanye nyontek Obama... dasar malas mikir,.. kok bisa ya,.. org sekaliber SBY di setir ama Malaranggeng CS, si penjilat..???
Suryo Busono
Minggu, 28 Juni 2009 | 07:06 WIB
Memang itu strategi raja-raja jawa yaitu, Merebut, menjalankan dan mempertahankan. SBY pada saat ini dalam posisi menjalankan dan mempertahankan hanya kemasanya pakai teknologi Modern ( Konsultan FOX dll.)
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.