Seperti tahun 2004 lalu, Pilpres 2009 ini setiap pasangan capres-cawapres menjanjikan perubahan menuju arah yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkinkah mereka mampu mewujudkan semua janji-janji itu?
Pilpres langsung telah menobatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling demokratis di dunia. Tetapi, dengan prestasi itu, apakah rakyat berhasil dimakmurkan secara merata?
Setiap capres saat itu menjanjikan stabilnya harga BBM, mengentaskan kemiskinan, dan sebagainya. Namun, ketika capres berhasil menjabat, janji-janji itu tidak dipenuhi. Harga BBM terus naik dengan alasan harga BBM dunia yang terus naik. Alasan ini dipandang tidak lagi relevan mengingat Indonesia salah satu negara penghasil BBM terbesar di dunia.
Pemerintah memang berhasil menurunkan harga BBM beberapa kali. Tetapi hal itu tidak berpengaruh terhadap kemakmuran umat, karena penurunan tersebut tidak signifikan.
Pemerintah mengklaim berhasil melunasi utang Negara ke IMF. Tetapi pemerintah menciptakan utang baru melalui lembaga keuangan dunia yang lain seperti ADB. Bahkan utang negara semakin membengkak hingga ribuan triliun rupiah. Rata-rata penambahan utang per tahun sekitar 80 triliun rupiah.
Pemerintah mengklaim berhasil survive dari krisis ekonomi global. Tetapi keberhasilan tersebut hanya angka-angka di atas kertas yang tidak berpengaruh penting terhadap kemajuan ekonomi umat. Pemerintah mengklaim memperhatikan umat miskin dengan program BLT, BOS, dan sederet program lainnya. Tetapi fakta di lapangan sangat menyedihkan.
Pemerintah masih menggunakan paradigma lama di dalam mengurus umat ini. Perhatiannya hanya tertuju pada peningkatan angka pertumbuhan ekonomi, GDP, dan mempertahankan angka inflasi. Tetapi kenyataannya, angka-angka tersebut tidak bisa menjamin pemenuhan kebutuhan pokok tiap-tiap rakyat.
Semua kegagalan tersebut berujung pada kesalahan sistem yang selama ini cenderung bercorak kapitalisme liberal, di mana kebebasan kepemilikan dan penjualan aset negara begitu dominan.
Negara kebangsaan ini pernah mencoba sistem bercorak sosialisme pada masa Orde Lama yang terbukti gagal. Negara ini kemudian pernah mencoba sistem bercorak kapitalisme pada masa Orde Baru yang terbukti gagal. Kini sejak reformasi digulirkan, negara mencoba sistem bercorak kapitalisme liberal yang juga menunjukkan tanda-tanda kegagalan.
Dengan kata lain, negara telah mencoba berbagai sistem, seperti sosialisme, kapitalisme, dan variasinya. Tetapi cita-cita kemakmuran merata tidak pernah terwujud. Mengapa negara tidak pernah bersedia menerapkan sistem Islam, sebuah sistem yang telah terbukti mampu menciptakan kemakmuran merata selama lebih dari seribu tahun?
Sistem Islam itu tidak akan terwujud kecuali dengan menegakkan Khilafah, negara Islam yang menerapkan Islam secara kaffah. Negara ini bukan kerajaan, teokrasi, atau republik. Negara ini negara khas yang mengambil Islam sebagai satu-satunya sumber hukum negara. Negara ini menjamin hak setiap warga negara tanpa memandang agama, bangsa, suku, dan ras.
Negara Islam pernah ada selama lebih dari seribu tahun mampu memberikan kemakmuran merata. Sayangnya, negara ini telah runtuh tahun 1924 M karena ulah para penguasa dan umat yang meninggalkan ajaran Islam dan mengadopsi sistem yang gagal.
Kini, konsep sistem Islam semakin dikenal dan diterima kembali oleh umat. Sedikit demi sedikit, kesadaran umat akan urgensi menegakkan kembali Khilafah semakin meningkat. Sistem ini diyakini menjadi solusi semua problematika mereka.
Sistem Islam menjadi tren baru di dunia saat ini, di mana 1,5 miliar umat Islam sedunia, termasuk di negara ini, semakin muak akan kegagalan sistem bercorak kapitalisme liberal dan juga sistem sosialisme komunis.
Capres dan cawapres 2009 seharusnya sadar, memahami, dan bersedia menerapkan sistem Islam yang kaffah tersebut. Mereka mestinya sadar akan keunggulan Khilafah sebagai solusi yang sangat rasional. Mereka juga harus mempertimbangkan aspirasi umat akan tuntutan penegakan Khilafah yang semakin membesar dan meluas di seluruh penjuru dunia, termasuk di negeri ini.
Mereka harus memecahkan kebekuan kerangka pikir yang selama ini terpenjara di dalam kejumudan nasionalisme dan demokrasi. Mereka harus memutuskan ketergantungan terhadap kekuatan kapitalisme liberal yang tidak lain adalah kekuatan asing penjajah!
Handi
handi2009@gmail.com