INILAH.COM, Jakarta - Poros Jakarta, Bandung, dan Surabaya mendominasi kemunculan band atau penyanyi di era 1970 hingga 1990-an. Masihkah kini band-band dari tiga kota itu mendominasi?
Meski persaingan antarband kian ketat, keinginan banyak anak muda mendulang sukses di ranah musik memang makin tinggi saja. Ya, kesuksesan banyak band yang melejit dengan cepat di blantika musik memberi harapan pada anak muda lain untuk bisa bernasib serupa.
Tak heran, kini bukan hanya di kota-kota besar saja, anak-anak muda meraih mimpi menjadi anak band. Tapi juga kota-kota kecil lainnya. Artinya, kini siapapun bisa bersaing di ranah musik. Apalagi belakangan banyaknya orang berduit yang siap menggelontorkan dana alias menjadi produser eksekutif bagi sebuah band.
Kini, indie musik pun kian menjamur. Karena banyaknya produser baru, yang bukan hanya ada di kota besar, tapi juga kota-kota kecil yang dahulunya sering tidak diperhitungkan di blantika musik Indonesia.
"Jadi sekarang kayaknya susah tuh memetakan perkembangan musik di Indonesia," ungkap pengamat musik yang juga seorang promotor Harry 'Koko' Santoso dalam sebuah perbincangan.
Lahirnya produksi indie belakangan, juga membuat pemetaan musik Indonesia memang sulit dilakukan sekarang ini.
"Sekarang banyak orang berduit mendanai produksi album sebuah band atau penyanyi. Jadi jangan heran, ada band dari daerah-daerah luar Jawa yang kini bisa bersaing di industri musik Indonesia," kata pengamat musik Bens Leo.
Kalaupun dari Pulau Jawa, banyak dari daerah di luar Bandung, Jakarta, Surabaya lahir band-band baru yang punya potensi bisa bersaing di blantika musik Indonesia.
Harry 'Koko' Santoso boleh jadi adalah orang yang banyak memberikan kesempatan kepada band-band daerah untuk berani tampil. Di bawah bendera Deteksi Production, Koko, sapaannya, dalam setahun bisa menggelar ratusan konser, baik di kota besar, ataupun kota kecil.
Di ajang festival musik terbesar di Asia Tenggara A Mild Live Soundrenaline, misalnya. Selain menamplkan band papan atas, Koko juga menyediakan panggung khusus untuk band pemula. "Kebanyakan band-band daerah yang baru menapaki karir di dunia musik. Kalau saya lihat punya potensi, saya tampilkan," ujarnya.
Setahun belakangan, setiap Senin malam di sebuah kafe pinggir pantai, Backstage, Ancol yang sebagian saham ia miliki, Koko juga memberikan kesempatan pada band daerah tampil. Beberapa band memang berasal dari daerah, seperti Lampung, Solo, dan lainnya.
"Sebenarnya banyak band daerah di luar Jakarta, Bandung, dan Surabaya yang memiliki potensi. Namun, selama ini mereka memang tidak memiliki kesempatan tampil. Nah saya menyediakan aksesnya di sini," ujar Koko.
Diapun banyak mengundang produser atau label rekaman untuk datang di kafenya, setiap Senin malam. "Barangkali ada band yang menarik untuk mereka bikinkan album. Siapa tahu," ujarnya.
Kian luasnya peta musik di Indonesia bisa terlihat dalam ajang cari bakat band A Mild Live Wanted (AMLW) 2009 yang baru rampung akhir Mei silam. "Gairah untuk ikut dalam ajang ini semakin tinggi. Mulai regional Indonesia bagian Barat sampai Timur pesertanya membludak," kata Wigra Hanafiah dari Sampoerna Indonesia, sebagai penyelenggara.
Pemenangnya pun yakni Supernova berasal dari kota kecil, yakni Purwokerto. Meski berasal dari kota kecil, band yang digawangi Andika (vokal), Randi dan Gali (gitar), Viriesza (bas), deddy (keyboard), dan Dian Mulya (drum) tampil penuh percaya diri di malam final AMLW 2009 di Bandung.
"Yah modal kami memang percaya diri saja, maklum di kota kecil kan fasilitas serba terbatas," ungkap Andika.
Di luar ajang itu, band-band di luar Jakarta, Bandung, Surabaya memang optimistis berjuang untuk bertempur di industri musik. Hero, band asal Solo, misalnya, kini setiap Senin malam tampil di Backstage, Ancol untuk memperkenalkan diri dan karya musik mereka.
Band yang terdiri dari Ekoy, Aswin, Angga, Adit, dan Kiki itu kini mencoba meraih mimpi dengan karya-karya mereka seperti Cinta telah Memilih atau Jagalah Wanitamu.
Kota Solo juga menampilkan band lain bernama Queen Vanilla (QV) yang mencoba bersaing dengan album Yang Terindah. Perjuangan mereka memang cukup berat karena berulangkali ditolak produser karena mengedepankan idealisme dalam bermusik. "Hingga akhirnya ketemu label indie, RMI Record yang bisa menerima aspirasi berkesenian kami," ungkap Sany punggawa band QV.
Atau lihat saja di Facebook milik Log Zhelebour. Di sana banyak musisi-musisi daerah yang berharap agar promotor musik itu kembali menggelar festival rock se Indonesia yang vakum beberapa tahun belakangan ini. "Potensi band-band rock memang sangat banyak di Indonesia. Ini berdasarkan pengalaman saya menggelar festival rock se Indonesia," kata Log yang sukses melahirlan Boomerang, Jamrud, atau Power Metal itu.
Peta permusikan Indonesia memang kian lebar. Namun memang yang dapat bersaing adalah mereka yang mampu menyajikan karya-karya bernas. [L1]