INILAH.COM, Jakarta - Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady memperkirakan setengah dari total nilai ekspor RI pada 2009 akan berasal dari negara-negara tujuan baru untuk ekspor (pasar baru).
"Kita rata-ratakan nilai per tahun 100-118 miliar dolar AS, ya kira-kira setengah dari itulah pasar barunya," kata Edy di Jakarta, pekan ini.
Ia menyebutkan, komoditas ekspor RI seperti makanan, udang, minyak sawit mentah (CPO), karet, dan tekstil. Pasar baru dimaksud antara lain ekspor ke Rusia, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eropa Timur. "Saya optimistis tahun ini, nilai ekspor dari pasar baru bisa mencapai setengahnya dari total pasar ekspor," katanya.
Namun hal itu dapat dicapai jika sejumlah persyaratan dipenuhi. Semua kebijakan bidang ekspor harus simultan, paket promosi dan trade financing berjalan dengan cepat.
Ia memperkirakan, permintaan internasional akan mulai meningkat pada September 09 sampai Maret 2010.
Edy memperkirakan, sektor-sektor tertentu akan mulai menggeliat pada September hingga Desember seperti household (perkakas rumah tangga), makanan, pakaian, dan sepatu.
"Keuntungan kita adalah bahwa di antara negara-negara ASEAN, rating kita paling tinggi, karena negara-negara pesaing kita menurun. Artinya mereka harus bayar biaya risiko lebih besar daripada kita, itu akan meningkatkan daya saing kita," katanya.
Hal itu terlihat dari banyaknya perwakilan asing yang datang ke Indonesia seperti perwakilan Jenewa/Swiss. "Artinya dia melihat bahwa kita sudah mulai menggeliat, kesempatan mereka untuk berinvestasi di Indonesia adalah sekarang. Memang mereka mempertanyakan bagaimana mengenai birokrasi di sini," katanya.
Ia menyebutkan, Indonesia sudah memperbaiki pelayanan publik termasuk dengan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). [*/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !