INILAH.COM, Jakarta Ekspektasi pemulihan ekonomi membuat gairah sektor properti muncul. Beberapa pengembang yang sudah menancapkan kukunya di daerah-daerah strategis, mulai bergeliat mengatur strategi. Bahkan ada yang berekspansi ke luar Jawa.
Pasar properti di Indonesia semakin seksi seiring penurunan suku bunga KPR dan ekspektasi pemulihan ekonomi yang berlanjut pada meningkatnya ekspansi kredit perbankan. Permintaan properti baik, untuk hunian maupun bisnis pun akan semakin tinggi.
"Trend kenaikan penjualan akan semarak pada akhir September atau kuartal ketiga nanti," kata Direktur Indonesian Property Watch Ali Tranghanda. Pengembang properti besar saat ini terpantau gencar berekspasni ke luar Jawa.
Kota-kota di daerah Sumatera dan Kalimantan menjadi target lokasi membangun perumahan baru seiring tingginya permintaan hunian. Selain itu, pemain properti di lokasi tersebut tidak terlalu banyak.
Misalkan saja PT Ciputra Development yang jatuh hati pada kota Pangkal Pinang di Bangka Belitung. Di kota yang kaya akan hasil bumi timah tersebut, Ciputra tengah menyiapkan proyek hunian Citra Garden, senilai Rp 750 miliar. Di atas lahan seluas 22 hektar, sekitar 6.000 rumah rencananya akan dibangun.
Sedangkan Agung Podomoro Group merangsek ke Kalimantan Timur, tepatnya di Samarinda. Kota ini dipilih lantaran harga tanah yang terus merangkak naik seiring pesatnya perkembangan ekonomi daerah tersebut.
Perusahaan ini tengah mengembangkan dua kluster baru di Bukit Mediterania, dari rencana membangun lima kluster di atas lahan seluas 38 hektar, senilai Rp 120 miliar. Sejak November 2008 lalu, tiga kluster sudah dibangun, yakni Spain, Monaco, dan Greece.
Adapun PT Cowell Development berencana membangun perumahan Borneo Paradise di Balikpapan, Kalimantan Timur. Kawasan ini dipilih terkait potensi kota ini sebagai salah satu produsen minyak dan gas sehingga pendapatan domestik brutonya cukup tinggi.
Kepala Riset Jones LanglaSalle, Anton Sitorus menuturkan, ekspansi beberapa pengembang besar ke luar Jawa tidak lepas dari pulihnya kondisi ekonomi Indonesia sejak kuartal kedua 2009. "Termasuk, faktor kecenderungan penurunan bunga kredit membuat pengembang berani kembali ekspansi," papar Anton.
Selain perumahan, Anton juga melihat pasar properti vila masih prospektif, terutama di kawasan wisata seperti Bali. Menurutnya, di tengah pelambatan ekonomi global dan sejumlah kawasan wisata mengalami penurunan kunjungan, Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata terbaik dunia justru menunjukkan peningkatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lima bulan pertama 2009, jumlah wisatawan yang ke Bali mencapai 679.226 orang, naik 8,64% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan investasi di properti masih menarik. Apalagi harga properti di Bali tiap tahun mengalami kenaikan sekitar 10%.
Anton menambahkan, meningkatnya permintaannya vila di pulau Dewata ini masih tetap tinggi. Kendati pemerintah membatasi kepemilikan properti asing sampai 75 tahun, kalangan ekspatriat tetap berminat membeli vila di Bali. Tak heran pasar vila akan tetap bagus, katanya.
Beberapa pemain pun sudah mulai bergerak. Salah satunya asalah Lintas Cipta Development yang berencana membangun proyek vila bernama Biu-Biu Kumala di tanah Lot Bali, senilai Rp 50 miliar. Di atas lahan empat hektare ini, akan dibangun 10 unit vila. Lintas Cipta mematok harga vila Rp 5-7 miliar per unit..
Sementara PT Wika Realty berencana membangun dua kluster vila sebanyak 500 unit. Pembangunan rencananya dimulai akhir tahun ini. Anak perusahaan PT Wijaya Karya ini mengincar Ubud dan Nusa Dua yang akan dibangun secara horisontal dan vertikal.
Adapun Bakrieland Development juga menyiapkan tiga hektar lahan di Ubud, Bali untuk membangun 10 unit vila senilai Rp 100 miliar. Bakrieland akan membanderol harga vila Rp 2-5 miliar per unit. Tidak hanya vila, PT Bakrieland Development juga akan membuka yaitu Kondotel Pullman Bali Legian Nirwana, pada September 2009 mendatang. Hunian berkelas di Jalan Pantai Kuta itu akan dikelola kelompok Accor International. Tingkat pengembalian setiap tahunnya ditargetkan mencapai 9-10% dalam dolar AS mulai tahun keempat.
Di kawasan tersebut juga akan ada Le Nirwana yang menghadirkan ruang public tepat di depan Pantai Kuta. Konsep tersebut diklaim sebagai konsep inovatif terbaru di Bali. Pullman terdiri dari 360 unit kamar dengan pemandangan menghadap ke laut.
Dari total unit kamar sekitar 20% atau 80 unit kamar akan dikelola Bakrie Development dan 280 unit kamar dijual. Hingga kini, 70% dari unit yang tersedia sudah terjual. Kamar yang dijual bervariasi, dengan kisaran harga Rp 1,5-5 miliar.
Pengembang memang terus berekspansi ke daerah seiring tingginya permintaan terhadap properti. Semuanya harus direspon positif tak hanya pemerintah pusat juga aparat di daerah agar iklim bisnis properti makin kondusif sehingga berdampak positif bagi perekonomian. [E1]