INILAH.COM, Tokyo - Aktivitas nuklir Korea Utara kian mengkhawatirkan tidak hanya Amerika Serikat dan beberapa negara di dunia. Tapi juga negara tetangga seperti Jepang dan Korea Selatan.
"Korea Selatan dan Jepang 'tidak akan pernah mentoleransi' Korea Utara yang bersenjata nuklir," ujar Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak, setelah melakukan perundingan dengan Perdana Menteri Jepang Taro Aso di Jepang, Minggu (28/6).
Lee dan Aso setuju untuk lebih menekan Korea Utara agar meninggalkan program nuklirnya di saat militer Pyongyang itu terus-menurus melakukan unjuk kekuatan. Selain itu, Jepang dan Korsel mendesak China agar memainkan peranan lebih besar untuk membujuk sekutunya itu melucuti senjatanya.
"Selama pembicaraan, kami mengkonfirmasi bahwa kami tidak akan pernah mentoleransi Korea Utara yang bersenjata nuklir," kata Lee kepada wartawan.
"Dengan pelaksanaan resolusi 1874 PBB, kami harus menunjukkan kepada Korea Utara bahwa mereka tidak akan memperoleh apa pun dengan memiliki senjata nuklir," kata Lee, menunjuk pada sanksi-sanksi PBB terhadap Pyongyang karena pengujian rudal dan nuklirnya akhir-akhir ini.
Sedangkan Aso juga mengatakan, "Kami setuju memperkuat kerja sama antara Jepang, Korea Selatan dan AS, dan sepakat mengenai pentingnya memperdalam kerja sama dengan China."
China, sekutu utama Korea Utara, selalu bersikap hati-hati terhadap Pyongyang. Hal itu dilakukan karena China khawatir mengenai langkah-langkah yang bisa mendorong rejim terkucil itu runtuh dan membuat jutaan pengungsi masuk ke wilayah perbatasannya.
Selain itu, Lee dan Aso juga membicarakan terkait perundingan lima pihak yang tidak melibatkan Pyongyang. "Dengan tujuan membuat kemajuan dalam perundingan enam pihak", kata Aso.
Tokyo dan Seoul memelopori upaya di Asia Timur untuk menentang sikap pembangkangan Korea Utara. Termasuk peringatan terus-menerus Pyongyang terkait konfrontasi militernya. Apalagi Korea Utara telah berjanji membuat lebih banyak bom nuklir dan memulai program senjata baru yang berlandaskan pengayaan uranium sebagai reaksi atas sanksi-sanksi PBB.
Pertemuan puncak Jepang dan Korea Selatan itu dilakukan ketika Pyongyang meningkatkan retorika konfrontasinya di tengah kecurigaan dunia bahwa pemerintah Kim Jong-Il bersiap-siap menembakkan rudal-rudal lain dan melakukan latihan militer di lepas pantai Korea Utara.
Ketegangan regional meningkat setelah Korea Utara pada 25 Mei lalu melakukan pengujian nuklir kedua, yang diikuti dengan peluncuran rudal. Korea Utara juga meninggalkan perundingan enam pihak mengenai perlucutan nuklirnya, yang mencakup kedua negara Korea, AS, China, Rusia dan Jepang.
Lawatan satu hari Lee ke Tokyo itu merupakan bagian dari 'diplomasi pertemuan puncak bolak-balik' yang tetap. Yakni sebuah sistem dimana para pemimpin itu saling mengunjungi negara masing-masing dua kali setahun untuk perundingan yang mencakup masalah-masalah diplomatik dan ekonomi. [*/jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !