INILAH.COM, Medan - Merebaknya isu istri Boediono, Herawati Katolik dalam kampanye tertutup JK pada 23 Juni lalu dianggap sebagai bentuk penyusupan lawan politik. Bobolnya 'pertahanan' pasangan nomor urut dua ini dapat melucuti popularitas JK.
"Selebaran tersebut membuat citra JK rusak, karena seolah pihak tim sukses JK-Wiranto-lah yang menyebarkan selebaran tersebut. Padahal tim sukses JK tidak ada punya niat membagikan selebaran," kata Ketua Partai Hanura Sumut, Musdalifah kepada INILAH.COM di Medan, Sumatera Utara, Senin (29/6).
Membagi-bagikan selebaran seperti itu kata Musdalifah, dapat membuat pasangan capres lain bakal buruk di mata masyarakat. Menurutnya, tim sukses JK selalu berkampanye secara santun dan selalu taat pada peraturan undang-undang pemilu.
"Karena dalam aturannya tidak dibenarkan menjelek-jelekkan pasangan sesama capres," lanjut Musdalifah.
Apalagi, tambahnya, berita selebaran yang dibagikan saat kampanye JK tersebut berbau SARA. Tim sukses JK merupakan orang yang santun dan tidak pernah mau memfitnah serta menjelek-jelekkan capres-cawapres lain.
"Karena tim sukses JK ingin bersaing secara sehat, bukannya memberikan selebaran yang dapat merugikan lawan saingnya," jelasnya.
Diungkapkan dia, kedepannya tim sukses JK akan lebih berhati-hati saat bekampanye. Agar kejadian seperti Herawati tidak terulang kembali.
Isu itu bermula ketika kampanye JK di Medan pada Kamis 23 Juni lalu. Dalam kampanye tertutup dengan pemuka agama se-Sumatera itu di Asrama Haji Medan, disebarkan foto copy artikel dari Tabloid Indonesia Monitor edisi 49 tahun 1, 3-9 juli 2009.
Artikel yang merupakan wawancara Habib Husein Al Habsy, yang berjudul 'Apa PKS tidak Tahu Istri Boediono Katolik' itu, kemudian disebarkan oleh salah satu oknum dalam kampanye JK. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !