Berulang kali email tentang alasan PKS memilih SBY tersebar di tengah publik. Jika kita amati, alasan partai dakwah ini mendukung SBY memang minim dan lemah. Salah satunya adalah PKS membutuhkan 'payung politik' untuk berdakwah. Sesimpel itukah?
Bila ini benar, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah hanya SBY yang sanggup memberikan payung politik itu? Bukankah sejak lama payung politik tersebut berkembang? Bahkan pada masa pemerintahan Megawati, PKS bebas mengoptimalkan misi dakwahnya, sehingga suaranya mampu melonjak hampir 300% pada Pemilu 2004 lalu.
Lucunya pada penjelasannya, PKS lebih banyak menyerang Jusuf Kalla. Dikatakan dalam penjelasan tersebut, Partai Golkar adalah warisan Orde Baru. Salah seorang tokoh kunci Golkar adalah Sultan yang dekat dengan klenik. Lalu disebutkan juga JK tidak berdaya menghadapi peredaran majalah Playboy.
Lupakah PKS bahwa Jusuf Kalla pernah diundang secara resmi oleh PKS untuk membahas arah koalisi? Bahkan dalam pertemuan itu muncul pernyataan, jika Golkar menjadi lokomotif, PKS siap menjadi gerbongnya!
Mengapa PKS kini mengkritik Orde Baru hanya untuk memojokkan Jusuf Kalla? Bukankah PKS-lah yang telah menobatkan Soeharto sebagai pahlawan, bahkan meng-guru-bangsa-kan tokoh Orde Baru tersebut?
Soal klenik, lupakah mereka bahwa PKS pernah mendekati Gerindra untuk menjajaki koalisi? Bukankah salah satu tokoh Gerindra adalah paranormal Permadi yang pastinya dekat dengan klenik juga? Soal peredaran majalah Playboy, bukankah SBY yang lebih berwenang karena posisinya sebagai presiden?
Jika kita amati, terkesan PKS memutuskan mendukung SBY dulu , baru kemudian mencari alasan-alasannya. Hal ini ditunjukkan dari sikap PKS yang seperti kebakaran jenggot begitu SBY menetapkan Boediono sebagai cawapres, meskipun nama Boediono telah lama masuk dalam kandidat cawapres. Bukankah seharusnya PKS telah memperhitungkan nama Boediono jauh hari sebelumnya?
PKS bukan kumpulan malaikat! Itulah kalimat yang kerap diucapkan petinggi dan kader PKS setiap kali mereka terbentur masalah. Akankah kalimat tersebut kembali diucapkan?
Abdullah Ikhsan
ikhsanabdullah@ymail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !